RADAR JOGJA – Festival dan pameran seni rupa kontemporer tahunan ArtJog 2020 akan diselenggarakan berbeda akibat pandemi Covid-19. Sebelum penyelenggaraan lebih dulu dilakukan simulasi kunjungan untuk memastikan porotokol kesehatan (prokes) sudah ditegakkan secara maksimal.

Kurator ArtJog Bambang Toko mengatakan, secara umum penegakan prokes sebagian besar sudah dijalankan maksimal. Hanya ada beberapa catatan item prokes yang perlu diperbaiki. Terutama pendaftaran atau reservasi awal di loket bisa dialihkan menggunakan QR Code.

“Besok yang sudah publish kita daftarnya online pakai QR Code. Jadi tidak ada menulis langsung,” kata Bambang usai simulasi ArtJog di Jogja Nasional Museum (JNM), Kamis (27/8).

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerewadi (HP) ( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA )

Ia menjelaskan beberapa prokes yang ditegakkan pada event besar ArtJog ini selain bermasker, jaga jarak, dan cuci tangan, antara lain, petugas dari Gugus Tugas pengawasan prokes ArtJog disiagakan. Pembatasan jumlah pengunjung setiap sesi antara 30-50 pengunjung. Atau tiap sesi dua jam perjalanan melihat karya dengan santai.

Karya seni yang dipamerkan tidak bersifat interaktif dan pengunjung cukup menikmati atau menyaksikannya dengan tanpa menyentuh karya atau benda apa pun. “Kalau biasanya setiap ruang ada galeri siter, biasanya ada tiga sampai lima orang per lantai. Tapi kali ini kami kurangi pertemuan dengan pengunjung,” ujarnya.

Penyelenggara juga akan mengarahkan alur pengunjung yang masuk maupun keluar. Memantau pengunjung yang bergerombol melalui media CCTV yang sudah terpasang di beberapa sudut ruangan. Dan mengingatkan setiap ada pengunjung yang bergerombol tanpa berjaga jarak melalui sound untuk announcement.

“Petugas akan mengarahkan ke ruangan selanjutnya yang sepi,” jelasnya. Selain itu, menyiapkan ruang kesehatan, peralatan kesehatan, dan ambulans on call bekerjasama dengan RS Bethesda Jogja.

Dikatakan, semangat event ArtJog tahun ini dengan mengusung tema “Resilience”. Lewat tema ini mengakomodasi para seniman agar tetap guyub dan berbagi spirit tentang ketangguhan. ArtJog di tengah pandemi tidak hanya sekadar melihat karya, melainkan menggunakan pendekatan filmis agar lebih bervariatif angle-nya, narasi tetap disusun.

Pantauan Radar Jogja, ada beberapa karya yang muncul, di antaranya, menjadi penanda tentang situasi pandemi. Seperti ada beberapa karya menampilkan masker dan pembahasan yang mendalam bagaimana masker menjadi piranti yang melekat di tubuh setiap orang.

“Sebenarnya awal September sudah bisa dinikmati. Meski tadi dari Gugus Tugas sudah oke protokolnya. Tapi kami tetap menunggu ada surat rekomendasinya supaya secara legal formal kuat, dan kami juga bisa dinyatakan aman dan nyaman menyelenggarakan event,” tambahnya.

SENI KONTEMPORER: Karya Eko Nugroho terpasang di ArtJog 2020
yang diselenggarakan di JNM, Wirobrajan, Kota Jogja, (27/8). ( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA )

ArtJog 2020 melibatkan 78 seniman yang sebagian besar berasal dari DIJ. Kali ini membatasi atau tidak ada pengiriman karya seni dari seniman luar negeri. “Jenis karya kebanyakan lukisan,” tambahnya.

Kepala Bidang Atraksi Wisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Jogja Edi Sugiharto mengatakan, sebelum dikeluarkan surat rekomendasi bahwa event bisa diselenggarakan, terlebih dulu akan dilakukan penilaian terhadap prokes yang sudah dijalankan. “Ini nanti akan jadi pilot project bentuk penyelenggaraan galeri pertunjukan seni dengan penegakan protokol kesehatan,” katanya.

Dikatakan, kegiatan yang masuk dalam kategori rekreasi dan hiburan sub galeri pertunjukan seni, juga ada beberapa prokes yang harus dipenuhi oleh tiga klasifikasi yaitu pihak pengelola tempat acara, penyelenggara event, dan pengunjung atau karyawan. “Prinsip mereka harus memenuhi CHS (clean health and safety) dan termogun. Karena pemeriksaan wajib,” ujarnya.

Sementara Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerewadi (HP) justru mendorong agar semakin banyak event seperti ArtJog dapat diselenggarakan. Karena masih dimungkinkan dibuat penegakan prokes dengan baik. “Mereka memang sungguh-sungguh mempersiapkan protokol kesehatan Covid-19. Tapi yang belum bisa diizinkan adalah pertunjukan seni berskala besar di lapangan,” tandasnya. (*/wia/laz)

Jogja Raya