RADAR JOGJA – Rumah Sakit (RS) Bethesda Jogjakarta sebelum menyandang nama itu diyakini menggunakan nama Petronella. Penggunaan sebutan ini mengambil nama istri penyumbang dana dalam pendiriannya, yakni Maria Petronella Wilhelmina, istri Pendeta Coeverden Adriani.

Terkait penamaan itu sendiri juga disampaikan dalam laman RS Bethesda. Di mana disebutkan jika rumah sakit itu didirikan oleh Dr JG Scheurer, seorang dokter yang diutus oleh Nederlandse Zendingsvereniging.

RS Bethesda awalnya diberi nama Zendingsziekenhuis “Petronella”. Coeverden Adriani sendiri memberikan bantuan uang untuk membangun rumah sakit. Masyarakat sekitar pada waktu itu mengenal Rumah Sakit “Petronella” dengan nama “Dokter Pitulungan” atau “Dokter Tulung”.

Ada beberapa kali pergantian nama seiring perjalanan waktu. Hingga terakhir dinamakan Rumah Sakit Bethesda. Tidak ada penjelasan lebih mendalam lagi mengenai kiprah sosok Pendeta Coeverden Adriani ataupun istrinya Maria Petronella Wilhelmina. Namun diyakini jika sang istri dimakamkan di pemakaman Kerkhof Purworejo.

Warga yang tinggal dekat Kerkhof Purworejo, Muhtadi mengungkapkan berdasarkan cerita kakek dan ayah yang pernah menjaga kompleks pemakaman itu, sebentuk nisan persegi empat itu ada menjadi peristirahatan terakhir Petronella. “Secara persis ceritanya saya tidak tahu. Cuman dikatakan kalau mereka ini menjadi penyumbang uang pendirian RS Bethesda Jogja,” kata Muhtadi Rabu (26/8).

PENANDA: Muhtadi menggosokkan bata merah di atas batu nisan untuk melihat tulisan yang menyebutkan nama Maria Petronella Wilhelmina di kompleks pemakaman Kerkof Purworejo.( BUDI AGUNG/RADAR JOGJA )

Kondisi makam itu memang tidak tampak istimewa layaknya orang-orang yang memiliki jasa besar. Berada di sisi kiri dari jalan masuk utama, orang tidak akan mengetahui ada tokoh besar yang berada di situ tanpa ada cerita dari orang lain.
“Sepengetahuan saya tidak pernah ada orang dari sana (Bethesda) yang ke sini. Dulu pernah ada mahasiswa, tapi saya kurang tahu dari mana bertanya-tanya tentang makam itu. Setelah itu tidak ada lagi,” tambah Muhtadi.

Disinggung mengenai kontak dengan orang Bethesda, Muhtadi mengatakan dirinya tidak tahu. Sejak dari kakek atau ayahnya pun, ia mengaku jika tidak pernah ada cerita mengenai hubungan dengan rumah sakit tersebut.

“Kalau dengan dinas, saya kurang tahu ya. Cuman untuk makam-makam di sini, saya ada beberapa hubungan komunikasi, baik yang di luar atau dalam negeri. Contohnya dulu ada keluarga dari Jerman yang ingin melihat makam leluhurnya di sini. Tapi, ya datang baru sekali, mungkin karena terlalu jauh ya,” katanya.

Kompleks pemakaman Kerkof Purworejo sendirti tidak terlalu terlihat dari jalan besar di dalam kota Purworejo. Bangunannya berada di belakang kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Inspektorat Purworejo di Jalan Mayjen Sutoyo.
Jika berjalan agak pelan dan mengarahkan pandangan ke sebelah barat, gerbang utama masuk agak terlihat jelas karena menggunakan cat yang mencolok yakni kuning. Ada tulisan Memento Mori dan Makam Kerkhope. Gerbang masuk ini terlihat cantik karena telah dilakukan perbaikan di tahun 2014. Pengelolaan kawasan ini ada di bawah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purworejo.

Berbagai sumber menyebutkan, keberadaan makam ini diresmikan tahun 1850 dan berdiri di lahan seluas 1,78 hektare. Tempat itu sendiri hingga sekarang masih aktif digunakan sebagai tempat permakaman bagi warga Nasrani.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Din LH) Purworejo Al Bambang Setyawan menyebutkan, pengguna makam dikenai biaya. Besarannya disesuikan jangka waktu di mana untuk lima tahun senilai Rp 30.000, 10 tahun Rp 52.500 dan paling lama 15 tahun sebesar Rp 75.000/m2.

Meski demikian, makam-makam tua tetap ada dan mendapatkan perawatan dari pihaknya. Adapun perawatan yang dilakukan sebatas pembersihan dan pemotongan rumput saat sudah tinggi. “Total yang dimakamkan di tempat itu ada 1.241 orang,” kata Al Bambang.

Dari jumlah yang ada, memang masih ada makam yang tidak diketahui jejaknya. Identitasnya tidak diketahui karena nisannya sudah tidak ada tanda nama. Data yang ada di dinasnya merupakan hasil invetarisasi tiga makam yang dilakukan di tahun 2014. “Kebetulan kami ada invetarisasi data makam Sibak, Kerkhof dan Tawangrejo,” tambah Bambang.

Disinggung mengenai orang mana saja yang dimakamkan, Bambang mengaku kurang begitu jelas. Hanya saja sepengetahuannya di tempat itu, selain warga Nasrani ada pula warga luar negeri yang meninggal saat pendudukan Belanda di Purworejo.

Pantauan Radar Jogja, di tempat itu ada beragam bentuk nisan. Muhtadi menyampaikan warga luar negeri yang dimakamkan di tempat itu ada dari Belanda, Jerman maupun Afrika. “Sebenarnya mudah untuk membedakan mana yang Jerman, Belanda atau Afrika. Ditilik dari nisannya sudah berbeda,” katanya.

Dari sekian banyak yang ada, makam yang unik adalah makam serdadu Afrika yang meninggal saat bertugas di Purworejo. Mereka disebut dengan londo ireng. Sebuah sumber mengatakan, di makam yang berbentuk seperti candi dari batu bata itu terdapat tujuh orang yang dkebumikan. (udi/laz)

Jogja Raya