RADAR JOGJA – Pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring untuk jenjang SD dan SMP di Sleman yang telah dilakukan sejak Maret karena pandemi Covid-19, masih memiliki permasalahan. Salah satunya adalah wilayah yang tidak memiliki sinyal internet secara stabil.

Kepala Sekolah SMPN 3 Prambanan Nurani menjelaskan, permasalahan yang dialami saat ini adalah kendala sinyal di beberapa tempat. Ini menyulitkan siswa dalam mengikuti PJJ. Meskipun demikian, hanya beberapa siswanya yang tisak bisa mengikuti PJJ dengan lancar.

Nurani mengaku, pihaknya juga masih belum melakukan upgrade kekuatan sinyal dengan penyedia layanan jasa jaringan internet. “Belum, karena di daerah dan waktu tertentu saja. Terlebih wilayah yang agak atas, sudah naik ke pegunungan,” jelas Nurani kepada Radar Jogja Senin (24/8).

Untuk mengatasi susah sinyal, rencana ke depan adalah mengintensifkan guru mengunjungi setiap daerah siswa. Khususnya siswa yang tinggal di wilayah minim jaringan internet. Untuk saat ini pihaknya masih mendata siswa yang tidak bisa mengikuti PJJ.

Meskipun belum dimulai, Nurani mengaku beberapa guru sudah melakukan kunjungan ke rumah siswa. Tidak hanya memberikan pembelajaran, guru juga memotivasi keluarga siswa untuk bisa bertahan dalam melakukan pembelajaran secara online ini.

Untuk pembelajaran tatap muka, nantinya hasil kerja siswa boleh dikumpulkan ke sekolah. Menggunakan kertas untuk memudahkan koreksi dan dikembalikan ke siswa. Setiap lembar tugas, tidak lupa diberikan komentar dari guru pengampu sebagai bahan perbaikan siswa. “Kami juga memperbanyak model pembelajaran agar siswa tidak bosan. Ke depan akan dilakukan evaluasi untuk meningkatkan evektivitas pembelajaran,” tambah Nurani.

Pihak sekolah juga berupaya dalam memberikan subsidi kuota internet bagi siswa untuk menunjang PJJ. Yang mana setiap siswa mendapatkan subsidi Rp 30 ribu. Total siswa di SMPN 4 Prambanan sebanyak 259 siswa, dan saat ini sudah kali kedua mendapatkan subsidi kuota. “Maksimal akan diberikan tiga kali. Namun jika dana masih mencukupi, akan disubsidi lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Seyegan Rini Trimurti Margaretha mengaku, kendala sinyal internet juga dirasakan oleh sekolah dan siswanya. Namun untuk mengatasi hal itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan penyedia jasa layanan jaringan untuk memperkuat bandwidth. “Sekarang sudah lancar,” ungkapnya.

Melalui rencana kegiatan dan anggaran sekolah, tambah Rini, sekolah juga telah mengupayakan pemberian subsidi kuota kepada siswa. Hal ini karena kuota internet, juga masih menjadi masalah selama masa PJJ. Untuk subsidi tahap kedua, siswa yang diprioritaskan adalah yang orang tuanya memiliki kartu keluarga miskin (KKM).

Nantinya setiap anak akan mendapatkan subsidi kuota sebesar Rp 50 ribu dari dana BOS. Setidaknya ada 259 dari keluarga memiliki KKM dan siswa kurang mampu yang tidak memiliki KKM akan diberikan subsidi. “Dari total 575 siswa. Pemberitahuan akan kami sampaikan lewat info sekolah resmi,” kata Rini.

Untuk mengoptimalkan PJJ, SMPN 1 Seyegan juga melaksanakan kurikulum masa darurat. Para guru bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat Kabupaten turut membahas bersama materi esensial apa yang harus disampaikan ke siswa. Secara rutin, evaluasi dilakukan dengan melaksanakan MGMP tingkat sekolah dilanjutkan dengan workshop metode pembelajaran jarak jauh. “Dengan narasumber pengawas pembina, serta meminta saran atau usulan dari orang tua terkait PJJ,” kata Rini.

Plt Dinas Pendidikan Sleman Arif Haryono membenarkan, permasalahan internet adalah hal yang tidak bisa dipisahkan selama masa pembelajaran daring. Meskipun demikian saat ini hanya ada beberapa sekolah yang memiliki kendala itu. Seperti di wilayah Tempel, Seyegan, dan Prambanan.
Solusi yang sudah ditempuh, tambah Arif, adalah dengan meningkatkan bandwidth agar jaringan tidak lagi lemot. “Ada yang sudah terealisasi, ada yang belum,” kata Arif.

Selain sinyal, kendala yang dialami selama PJJ adalah terkait penyampaian kurikulum yang dinilai tidak akan efektif. Oleh karena itu, Disdik mengimbau untuk setiap sekolah memilih melaksanakan kurikulum darurat. Yakni kurikulum nasional yang disederhanakan. Atau menyusun mandiri kurikulum yang akan diberikan kepada siswa. “Yang penting menjalankam kurikulum 2013, hanya saja materinya disederhanalan. Karena kurikulum 2013 di kondisi normal ya itu, namun sekarang kondisi tidak normal,” ungkap Arif. (eno/laz)

Jogja Raya