RADAR JOGJA – Dampak kedatangan wisatawan mulai dirasakan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) di DIJ. Khususnya penjaja kuliner khas Jogja yang kerap diburu wisatawan. Apa saja?

YUWANTORO WINDUAJIE, Jogja, Radar Jogja

Ketua Koperasi Sumekar Bakpia Pathok Sumiyati mengatakan, imbas kedatangan wisatawan mulai dirasakan sejak awal Agustus. Hampir seluruh anggota koperasi yang berjumlah 64 orang dengan 50 brand, kembali berproduksi. “Alhamdulilah bulan Agustus sudah bisa membuat bakpia walaupun belum 100 persen seperti saat masa normal kemarin,” katanya.

Dia menjelaskan, lonjakan pesanan terjadi saat libur hari kemerdekaan 17 Agustus lalu. Hal serupa juga dirasakan saat libur panjang akhir pekan kemarin. Masing-masing anggota sudah bisa memproduksi sekitar 200-300 box.

“Dulu waktu hari normal rata-rata bisa membuat 200-300 box. Sekarang waktu long weekend saat pandemi, sudah bisa membuat hampir seperti itu,” jelasnya.
Padahal, saat musim liburan sebelum pandemi, tiap pembuat bakpia bisa memproduksi lebih dari 500 box dalam sehari. “Misalnya Lebaran sebelum pandemi permintaan satu hari bisa 500 dus. Lebaran tahun ini off sama sekali, tidak ada pemasukan sama sekali,” katanya.

Dia melanjutkan, pandemi Covid-19 membuat geliat UKM terhenti selama empat bulan. Yakni dari Maret hingga awal Juli. Sebagian besar anggota memilih beralih profesi sesuai dengan keahlian yang dimiliki. “Yang punya latar belakang jahit menjahit buat masker atau jilbab. Yang dulu jualan, kembali jualan nasi, lauk pauk. Juga ada yang jualan buah,” ungkapnya.

Pihaknya mengandalkan wisatawan untuk menjajakan kuliner bakpia. Sedangkan pandemi Covid-19 membuat aktivitas wisata terhenti. “Hampir 70 persen mensuplai toko oleh-oleh. Juga pedagang kaki lima Malioboro atau depan Pasar Beringharjo. Imbasnya tidak ada wisatawan, jadi juga tidak ada pergerakan. Mau dititipkan siapa juga tidak ada,” katanya.

Selama pandemi, penjualan dengan metode daring pun belum bisa diandalkan. Sebab, sebagian besar pembeli adalah wisatawan yang datang langsung ke toko. “Karena bakpia bukan kebutuhan sehari-hari, namun oleh-oleh. Tidak terasa untuk online itu. Biasanya langsung datang,” paparnya.

Imbas kedatangan wisatawan juga dirasakan pedagang gudeg di kawasan Wijilan. Salah seorang karyawan restoran yang enggan namanya dikorankan menjelaskan, berdasarkan pengamatannya, jumlah pengunjung mulai mengalami peningkatan secara bertahap di bulan Agustus. “Terutama tiap akhir Minggu ini. Kan ada tanggal merah terus ya. Itu mulai ramai,” katanya.

Kendati demikian, jumlah pengunjung yang datang belum seperti masa liburan sebelum pandemi. Saat akhir pekan biasanya restoran bisa menghabiskan 80 ekor ayam untuk bahan membuat gudeg. Adapun weekend kali ini baru menghabiskan kira-kira 40-50 ekor ayam. “Kalau pandemi kemarin cuma 10 hingga 20-an ekor. Itu saja nggak habis,” katanya. (laz)

Jogja Raya