RADAR JOGJA – Siswa kelas 5 SDN Bantul, Zuleha Nur Widyastuti merupakan murid berprestasi. Namun, sejak diterapkannya belajar dari rumah (BDR), akibat pandemi Covid-19, nilai dan prestasi Zuleha menurun.

Siti Fatimah, Bantul, Radar Jogja

Zuleha,11, seharusnya berada di sekolah bersama teman-temannya. Namun, dengan diterapkannya kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring, waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah.

Sistem BDR pun tidak sepenuhnya bisa dilakoni oleh Zuleha untuk belajar di rumah. Waktunya, sebagian besar terbagi dengan bekerja membantu orang tua berjualan angkringan. Pukul 09.00, dengan menenteng tas berisikan buku pelajaran sekolah, Zuleha bersama sang ibu harus sudah membuka angkringan.
Kamis (20/8) sore, tampak Zuleha tengah serius membaca buku di sela-sela istirahat membantu sang ibu. Setiap ada waktu istirahat, selalu dimanfaatkan oleh Zuleha untuk mengerjakan tugas dari sekolah. Materi tugas dari guru, didapat dari men-download melalui telepon pintar.

Bungsu dari empat bersaudara ini menuturkan, sebelum diterapkannya sistem daring, selalu mendapat peringkat dua. ”Semester terakhir kemarin duduk di peringkat tiga,” ujarnya dengan tersipu malu.
Ya, Zuleha merupakan siswa yang cukup aktif di sekolah. Sistem pembelajaran jarak jauh menyebabkan keterbatasan berinteraksi dengan guru. ”Biasanya kalau kesulitan bisa bertanya,” jelasnya.

Siswa kelas lima SDN Bantul Warung ini memiliki tiga orang kakak. Dikarenakan kurikulum yang mereka peroleh dengan yang dijalani Zuleha berbeda, Zuleha tidak dapat menerima bantuan dari ibu atau kakak-kakaknya.
Dia mengaku, cukup kesulitan untuk belajar matematika secara mandiri. Tak heran, bila sebelum BDR dia selalu mendapat nilai 100, sekarang nilai paling tinggi yang diperoleh 95. “Guru (matematika) saya hanya memberikan materi pelajaran lewat video yang diunduh buat ditonton,” sebutnya.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Isdarmoko mengatakan, kondisi saat ini berada dalam keadaan darurat. Sehingga siswa SD kerap belum dapat mengoptimalkan penggunaan gawai. Tidak dipungkiri, ketika dalam pengiriman tugas sekolah, orangtua siswa akan memberikan bantuan. “Tidak ada yang dapat menjamin kejujuran,” sebutnya.
Kendati begitu, siswa yang mengalami keterbatasan dalam memahami pelajaran dapat meminta konsultasi kepada guru mapel. Dengan catatan, tetap menerapkan protokol kesehatan (bah)

Jogja Raya