RADAR JOGJA – Manajer Pendampingan Balkondes Community Based Tourism (CBT) Nusantara Cahyo Seno Aji menjelaskan, pariwisata memang tidak bisa berdiri sendiri. Setiap daerah harus memiliki potensi lokal yang dapat diandalkan sepanjang tahun. Pasalnya, kunjungan wisata ada fluktuasi low season dan peak season. Apalagi di tengah pandemi, hanya daerah yang memiliki basis potensi lokal yang mampu bertahan.

“Wisata hanya menjadi bonus. Moda utama penggerak ekonomi masyarakat adalah potensi lokal,” jelasnya. Ia berharap pengelola Balkondes dapat memaksimalkan berbagai potensi yang ada untuk menimbulkan efek berlipat ganda dari berbagai aspek. Mulai dari pertanian, pengolahan makanan kemasan, busana, sampai seni budaya. Oleh karena itu ia saat ini sedang mengajukan program untuk pengelola Balai Ekonomi Desa (Balkondes).

Cahyo mengaku saat ini menjalankan program pengembangan potensi lokal. Sayangnya belum banyak yang mampu menangkap semangat program ini. Pada dasarnya, Balkondes dibuat untuk menawarkan pengalaman kultural suasana desa dengan berbagai kearifan lokal di dalamnya. “Harapan kami Balkondes bukan sekadar resto dan penginapan,” jelasnya.

grafis: herpri kartun/radar jogja

Padahal Balkondes memiliki potensi besar. Sebab, sejauh pengamatannya, Balkondes kini sudah menjadi tujuan utama para wisatawan. “Kalau dulu putaran besar hanya ada di dalam candi, sekarang putaran uang keluar candi semakin besar setelah ada program Balkondes. Kebanyakan yang datang ke Balkondes malah tidak ke Borobudur. Itu sesuatu yang membanggakan,” jelasnya.

Pihaknya mencatat ada peningkatan signifikan perputaran uang dari tahun ke tahun. “Pendapatan Balkondes di tahun 2017 total Rp 2 miliar. 2018 Rp 5,6 miliar, 2019 Rp 9,5 miliar dari target Rp 12 miliar. Ini di Balkondes saja yang tercatat,” ungkapnya.

Peternakan etawa di Dusun Tegalombo, Ngargoretno, Salaman, misalnya yang hanya menjual susu kambing segar. Soim, salah seorang peternak mengaku mengandalkan pemasukan lain dari kunjungan wisatawan, termasuk memerah susu kambing etawa. Sedangkan harga susu segar sendiri semakin menurun.
Seno menjelaskan ia juga menyiapkan program pengembangan untuk mereka. “Harga semakin menurun kami programkan membuat keju. Kami akan carikan expertise di bidang itu, dari hulu sampai hilir. Kami membangun rumah produksi keju sampai kapasitas 300 liter,” jelasnya.

Kepala Dusun Keruk Batur, Majaksingi, Yulius Ismoyo menjelaskan, berkat program ini mereka bisa mengembangkan potensi kopi di dusunnya. Saat ini ia sedang membangun tandon air untuk keperluan irigasi. Selain itu, ia juga menyiapkan rumah kompos dan pembuatan sida nabati. “Ke depan meningkatkan kualitas kopi dengan budidaya organik. Semoga bisa tercapai,” katanya. (asa/laz)

Jogja Raya