RADAR JOGJA – Proyek tol Jogja-Solo kini memasuki tahap pengadaan tanah. Hal ini ditandai dengan pemasangan patok pertama di lokasi yang akan dilalui trase proyek tersebut di Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Rabu (19/8).

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIJ Krido Suprayitno menjelaskan, usai pematokan secara berkelanjutan tahapan akan dilanjutkan dengan etape pelaksanaan pengadaan tanah. Nantinya tim akan melakukan pemetaan dan pengukuran tanah, sekaligus inventarisasi dan identifikasi.

SELANGKAH MAJU: Pemasangan patok pertama tol Jogja-Solo di Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, (19/8).(SEVTIA EKA NOVARITA/RADAR JOGJA )

Dari data awal yang diperoleh, tambah Krido, ada 3.006 bidang yang terdampak usai proses sosialisasi dan konsultasi publik. Dari luas bidang tersebut, kurang lebih luasan tanahnya 177,5 hektare. “Dengan total 2.978 pemilik tanah,” ungkapnya.

Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) DIJ Tri Wibisono menambahkan, setelah pematokan perdana dilakukan rencananya secara simultan tim pengadaan tanah akan melakukan pengukuran dan pemetaan. Sekaligus melakukan pengumpulan data yuridis. Setelah itu, akan mulai dilakukan penilaian ganti rugi oleh pihak appraisal.

Nantinya akan ada Satgas A yang dibentuk khusus. Untuk melakukan pemetaan dan pengukuran tanah yang akan dimulai pada awal September dan ditargetkan selesai akhir bulan itu. Sedangkan Saltgas B bertugas melakukan inventarisasi, identifikasi sekaligus melakukan pengumpulan data yuridis. “Satgas B untuk melakukan identifikasi inventarisasi benda-benda apa saja yang ada di tanah tersebut, sekaligus data yuridis yang ada,” ungkapnya.

grafis: herpri kartun/radar jogja

Menurutnya, ada hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh masyarakat. Di antaranya mempersiapkan data yuridis hak atas tanah, serta menjaga batas yang sudah disepakati. Harapannya, hal ini akan mempercepat pembebasan lahan.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji berharap dengan pemasangan patok pembebasan tanah bisa selesai dengan cepat. Diharapkan sebelum akhir tahun sudah ada pembayaran yang diberikan kepada masyarakat terdampak.

Sehingga, masyarakat bisa menggunakan dana untuk hal yang krusial.
Jika ada masalah, tambah Aji, diharapkan masyarakat bisa langsung membicarakan dengan satuan kerja pembangunan tol. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya masalah sosial yang bisa terjadi. “Diharapkan masyarakat ikut berpartisipasi untuk mensukseskan proses pengadaan tanah. Kami juga terus sosialisasi kepada masyarakat,” kata Aji.

Bupati Sleman Sri Purnomo (SP) juga meminta masyarakat terdampak tol nantinya bisa memanfaatkan uang ganti untung untuk hal yang produktif. Misalnya untuk segera membangun rumah sebagai tempat tinggal pengganti. “Jangan digunakan untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif. Jangan sampai nanti justru tidak punya rumah,” katanya.

SP juga mengapresiasi kerja cepat dan ketepatan waktu persiapan pengadaan tanah. Dengan demikian, proses pembebasan tanah bisa dilakukan, sehingga uang ganti untung bisa segera diterima oleh masyarakat terdampak. (eno/laz)

Jogja Raya