RADAR JOGJA – Wisata alam kini menjadi destinasi paling digemari masyarakat karena minim risiko penularan di tengah pandemi Covid-19. Namun dari 30 objek wisata yang telah dibuka, baru Candi Borobudur yang menerapkan sistem reservasi, itu pun masih mengandalkan bayar di tempat. Padahal, reservasi online dapat untuk mengendalikan agar tidak terjadi lonjakan pengunjung.

Plt Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Kadisporapar) Kabupaten Magelang Iwan Sutiarso mendorong agar pengelola dapat menerapkan sistem ini. “Reservasi bisa membatasi waktu dan jumlah. Kita akan tahu kapasitasnya berapa, sudah memenuhi atau belum. Jadi orang belum sampai, sudah tahu,” jelasnya Rabu (19/8).

Sekalipun wisata alam di tempat terbuka memiliki risiko yang lebih minim, jika terjadi kerumunan tetap berpotensi besar menjadi ajang penularan Covid-19. Pada 15 Juni lalu, Silancur Highland dipadati oleh ribuan orang. Iwan meminta saat itu juga ditutup agar dilakukan evaluasi. “Mereka pada saat itu sudah menyadari dan pada hari itu juga tutup. Mereka harus disiplin dan taat dengan SOP yang sudah mereka buat,” jelasnya.

Tidak terkecuali objek wisata alam lain seperti Ketep Pass. Kepala Bagian Pemasaran dan Promosi Ketep Pass Edward Alfian menjelaskan, sering menolak pengunjung tiap akhir pekan karena kapasitas yang ditentukan telah penuh. “Kalau weekend sudah nolak karena di dalam sudah penuh. Kalau di hari biasa rata-rata 400-500 orang,” katanya.

Saat ini strategi yang dilakukan yakni mengarahkan pengunjung ke objek wisata lain. “Kalau di dalam penuh pengunjung, kami alihkan ke destinasi sekitar Ketep Pass. Top Selfie Kragilan sudah buka, demikian juga Kedung Kahyang dan Kebun Inggit Strawberry,” jelasnya.

Sejauh ini yang bisa dilakukan oleh pengunjung agar tidak kecele adalah dengan booking via telepon. Itu pun hanya untuk rombongan sekitar 30 orang. “Kalau ada kunjungan rombongan hari dan jam berapa, nanti di jam itu kami batasi agar rombongan bisa masuk,” ungkapnya.

Padahal kebanyakan pengunjung merupakan kelompok-kelompok kecil keluarga. Beberapa dari mereka yang tidak ingin beralih ke objek wisata lain seringkali menunggu di luar objek wisata untuk giliran masuk. Pengunjung di dalam pun dibatasi hanya sampai dua jam.

“Itu di sepanjang jalan ada warung-warung. Kalau tidak mau diarahkan ke destinasi lain, mereka parkir di luar beli jagung, tempe mendoan, seputar sana. Warung cukup banyak. Selama ini masih terkendali. Kami pastikan semua penjual memakai masker dan menyediakan cuci tangan,” jelasnya. (asa/laz)

Jogja Raya