RADAR JOGJA – Belasan orang yang tergabung dalam Paguyuban Gejayan Ayem Tentrem melakukan aksi penolakan terhadap berbagai jenis aksi demo di Jalan Gejayan. Aksi ini dipicu karena demo dengan massa banyak sering mengganggu aktivitas maupun perekonomian warga, pedagang maupun tukang parkir di Gejayan.

Ketua Paguyuban Gejayan Ayem Tentrem Desi Setiawan, menjelaskan, ia tidak melarang segala bentuk aksi yang dilakukan mahasiswa untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Hanya saja paguyuban yang merupakan komunitas dari warga, pedagang, atau pemilik usaha, dan tukang parkir di sekitar Jalan Gejayan, menolak jika Gejayan dipakai sebagai tempat aksi. Terlebih melibatkan masa yang begitu banyak.

Hal ini berakibat pada elemen masyarakat di wilayah Gejayan merasa terganggu dan khawatir, jika aksi yang melibatkan masa akan berujung ricuh dan mengganggu kenyamanan keselamatan. “Jangan terulang seperti dulu. Di simpang tiga UIN Sunan Kalijaga kemarin dibubarkan polisi tidak mau, sehingga warga yang turun. Jangan sampai seperti itu, Gejayan bukan tempat demo,” jelas pria yang akrab disapa Iwan ini.

Ia menambahkan, paguyuban juga sempat memasang spanduk di pertigaan Gejayan terkait penolakan aksi. Hanya saja di tanggal 14 Agustus saat aksi demo dilakukan, spanduk sudah terlepas. Bersamaan dengan aksi oleh paguyuban, spanduk penolakan kembali dipasang. “Demo kan bisa di gedung pemerintahan atau kampus. Jangan di Gejayan,” tegas Iwan.

Ia juga merasa tagar Gejayan Memanggil malah menjadikan warga sebagai kambing hitam. Seolah-olah masyarakat Gejayan yang memanggil massa untuk melakukan aksi. Kenyataannya masyarakat tidak pernah turut memanggil. Selain itu ia juga menyayangkan tidak pernah adanya surat tembusan ke masyarakat saat aksi demo akan dilakukan.

Jika nantinya memang akan dilakukan aksi kembali, setidaknya pihak perencana aksi harus memberikan surat tembusan dan meminta izin. Terlebih kepada masyarakat yang berada di wilayah pinggiran Jalan Gejayan. “Selama demo kemarin tidak pernah ada surat tembusan. Baik ke dukuh, kelurahan maupun masyarakat,” ungkap Iwan.

Sementara itu, salah seorang juru parkir di Jalan Gejayan Yanto, mengaku merasa terganggu saat adanya aksi. Jalanan yang ditutup membuat pendapatan Yanto sebagai tukang parkir menurun. Biasanya satu jam parkir ia bisa mendapatkan Rp 20 ribu-Rp 30 ribu. “Namun kalau demo kerugian bisa capai Rp 50 ribu,” katanya.

Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) selaku pelaksana aksi Gejayan Memanggil, hingga kemarin sore belum bisa dihubungi. Tercatat, ARB sudah beberapa kali melakukan aksi di Jalan Gejayan dengan massa cukup besar. (eno/laz)

Jogja Raya