RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X kembali menyoroti membeludaknya wisatawan di kawasan Malioboro akhir pekan lalu. Upaya penerapan protokol kesehatan (prokes) dianggap belum berjalan efektif. Jika terus berlanjut, dikhawatirkan memunculkan klaster baru penularan Covid-19.

HB X meminta Unit Pelayanan Teknis (UPT) Malioboro untuk konsisten dalam menerapkan prokes yang ada. Misalnya wajib pindai QR code bagi wisatawan dan pembatasan jumlah wisatawan per zona. “Yang penting betul-betul UPT konsisten. Kalau memang didata ya didata, jangan ditinggal. Mestinya per zona dibatasi 500 orang,” katanya di Kompleks Kepatihan, Senin (17/8).

Selain itu, upaya pengawasan yang dilakukan juga belum optimal. Terlihat dari minimnya petugas yang berada di lapangan. “Yang jaga tadi malam juga enggak ada. Berarti enggak konsisten,” katanya.

Sebelumnya, pada Juni lalu Raja Keraton Jogja itu juga menyoroti padatnya kawasan Malioboro. Sama kondisinya, saat itu banyak pengunjung dan pesepeda yang tak menerapkan protokol kesehatan. Bahkan saat itu HB X mengancam akan menutup kawasan Malioboro jika pelanggaran kembali terulang.

Kepala UPT Malioboro Ekwanto mengakui adanya lonjakan pengunjung di Malioboro sejak Sabtu malam. Dia memperkirakan terdapat sekitar 2.000 pengunjung yang datang. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan pekan lalu. “Dari pukul 17.00 sampai 22.00 banyak pengunjung. Dari tempat parkir Abu Bakar Ali, mulai dari bus sampai kendaraan pribadi juga penuh,” jelasnya.

Pengunjung dari luar daerah mulai mendominasi. Ini berdasarkan pemantauan pelat nomor kendaraan yang diparkir. “Banyak dari luar kota. Ada dari Semarang, Bandung, Pekalongan, Brebes, mungkin karena mereka sudah jenuh di rumah. Ditambah orang Jogja dan sekitarnya. Kadang-kadang yang bikin crowded hanya lewat,” ucapnya.

Pihaknya telah meminta bantuan Satpol PP dan Dinas Perhubungan (Dishub). Mereka bertugas mengatur arus pengunjung dan mengurai kepadatan di Malioboro. Adapun Jogo Boro bertugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh, membantu melakukan pemindaian, serta memastikan pengunjung telah memakai masker dan mencuci tangan. “Kami berharap Satpol PP dan Dishub mem-back up, bisa memberikan arahan kepada pengunjung karena petugas Jogo Boro tidak mungkin mobile,” terangnya.

Ekwanto melanjutkan, ada 36 petugas Jogo Boro yang diterjunkan. Adapun Satpol PP dan Dishub masing-masing menerjunkan 24 petugas. “Yang Jogo Boro paling utara 6-8 orang, selatan 6-8 orang, tengah dan sirip-sirip 4 orang. Mungkin dari luar melihat UPT tidak ada yang mengatur, memang kami kehabisan personel,” katanya.

Ekwanto mengakui petugas cukup kewalahan menghadapi kedatangan wisatawan. “Memang di satu sisi kalau kami dianggap tidak konsisten, ada betulnya juga karena ketika jalan crowded mobil berhimpitan semua. Kalau kami harus menyeberangkan, itu akan menambah persoalan lagi, sehingga di situ kami dianggap nggak konsisten,” jelasnya.

Namun dia memastikan upaya pembatasan pengunjung tetap dilakukan. Saat ini kawasan Malioboro dibagi menjadi lima zona. Per zona jumlah pengunjung dibatasi sebanyak 500 orang. Sehingga jumlah maksimum pengunjung Malioboro 2.500 orang.

“Tapi sebelum itu kami minta 400 atau 450 untuk segera komunikasi dengan Radio Widoro, meminta pengunjung untuk bergeser dan berganti dengan yang lain. Semua kami tahan di utara kemarin, karena crowded kami tahan di Teteg nunggu habis dulu,” tutur mantan Lurah Prawirodirjan itu.

Nurul Rizqi, 29, wisatawan asal Klaten mengaku datang ke Malioboro karena merasa jenuh. Dia tak mengkhawatirkan adanya kerumunan di kawasan itu. Sebab, dirinya selalu berusaha menjaga jarak. Sebelum berkunjung ia telah menyiapkan masker dan hand sanitizer. “Bosen aja pingin keluar. Mumpung masih liburan kan,” katanya.

Ia tidak mengetahui bahwa pengunjung Malioboro wajib melakukan pemindaian QR code. “Baru tahu, itu wajib ya? Soalnya tadi ke sini diantar turun di tengah-tengah,” tambahnya. (tor/laz)

Jogja Raya