RADAR JOGJA – Angka kunjungan wisatawan ke Jogjakarta terus merangkak naik. Data Dinas Pariwisata DIJ mencatat angka kunjungan akhir pekan lalu mencapai 39 ribu wisatawan. Bahkan angka kunjungan ini tertinggi dibanding DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Kondisi ini tentu berdampak positif bagi roda perekonomian. Di sisi lain lonjakan wisatawan ini menjadi dilema di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Angka 39 ribu itu hanya kunjungan satu hari, Minggu (16/8). Angka ini tertinggi selama pandemi corona (Covid-19),” jelas Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo, dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (18/8).

Acuan data berasal dari input aplikasi Visiting Jogja. Para wisatawan, lanjutnya, terdata mengunjungi sekitar 41 destinasi wisata di Jogjakarta. Dari data ini juga terungkap sebanyak 53 persen wisatawan berasal dari luar Jogjakarta.

Detil data Dispar Jogjakarta pada 11 dan 12 Juli mencapai 21 ribu wisatawan. Selang seminggu tepatnya 18 dan 19 Juli mencapai 33 ribu wisatawan. Angka ini terus merangkak hingga pekan kedepannya.

“Sabtu 25 Juli mencapai 18 ribu dan Minggu 26 Juli sebanyak 27 ribu. Awal akhir pekan Agustus sampai 43 ribu lalu Sabtu kemarin (15/8) sampai 17 ribu dan Minggu (16/8) tembus 39 ribu. Weekday hanya dibawah 5 ribu,” katanya.

Angka pemasukan dari 39 ribu wisatawan mencapai Rp 150 juta dari penjualan tiket. Angka ini masih mungkin bertambah, terutama dari penjualan souvenir hingga penjualan di sektor kuliner.

Walau begitu, Singgih mengakui lonjakan ini juga menjadi pengingat bagi jajarannya untuk menjalankan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat. Tujuannya agar tak ada penularan atau munculnya kasus Covid-19 di lokasi wisata.

“Ini adalah antara ekonomi dan kesehatan harus jalan bersama. Protokol wajib berjalan, bukan lagi karena ada petugas yang jaga tapi atas kesadaran para pengunjungnya,” ujarnya.

Penerapan protokol kesehatan juga tidaklah mudah. Singgih mencontohkan kawasan wisata alam. Luasnya wilayah menjadi kendala penerapan protokol kesehatan. Berbanding terbalik dengan destinasi wisata dengan lingkup kecil.
Keberadaan petugas jaga tak sepenuhnya menjadi jaminan. Terutama jika disiplin penerapan protokol oleh wisatawan belum tinggi. Alhasil potensi munculnya pelanggaran kerap terjadi.

“Malioboro masih bisa diatasi untuk penerapan protokol kesehatan oleh petugas. Akan tetapi lokasi wisata seperti pantai sangat terbatas jika mengandalkan petugas saja. Yang sering lupa masker dan jaga jarak,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya