RADAR JOGJA – Seleksi pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) tahun ini ditiadakan akibat pandemi Covid-19. Mereka yang bertugas adalah anggota yang direkrut tahun lalu. Pelaksanaan upacara bendera di Istana Kepresidenan Gedung Agung pun disederhanakan untuk memenuhi ketentuan protokol kesehatan (prokes).

Ini mengacu surat edaran (SE) Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 16 Mei 2020 tentang Pelaksanaan Seleksi Paskibraka Nasional 2020. Disepakati untuk peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI akan dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dan meminimalisasi jumlah petugas dan peserta.

“Jadi tidak ada seleksi, yang berpartisipasi adalah Paskibraka tahun kemarin. Jadi tahun ini tidak ada perekrutan,” kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Didik Wardaya kemarin.

Umumnya diperlukan sekitar 70 anggota Paskibra yang bertugas. Mereka terdiri atas pasukan 8, pasukan 17, dan pasukan 45. Namun, petugas pengibar bendera yang disiapkan saat pelaksanaan upacara hari kemerdekaan dipangkas menjadi delapan orang.

Terdiri atas dua kelompok dan dua orang cadangan. Kelompok pertama bertugas menaikkan bendera dengan tiga anggota yaitu dua laki-laki dan satu perempuan. Penurunan bendera dilakukan kelompok kedua dengan jumlah dan dan komposisi tim yang sama. Sementara untuk cadangan terdiri atas satu petugas laki-laki dan satu perempuan.

Didik menjelaskan, intensitas latihan pun dikurangi. Karena anggota dianggap telah memiliki pengetahuan dan pengalaman saat mengikuti pelatihan tahun lalu. “Intensitas latihan jelas ada pengurangan karena mereka hanya mengulang. Hanya beberapa hari. Sejak dua tiga hari yang lalu mereka sudah latihan,” katanya.

Kendati demikian, Didik berharap upacara dapat terselenggara secara maksimal. “Semoga petugas pengibar bendera pusaka bisa melaksanakan secara baik dan semaksimal mungkin, sehingga upacara berjalan sukses. Karena kuncinya itu upacara bendera,” jelasnya.

Ketua Panitia Umum HUT ke-75 RI Tri Saktiyana menjelaskan, sesuai arahan pemerintah pusat, upacara HUT RI di halaman Gedung Agung bakal disederhanakan. “Biasanya ada pasukan 17, 8, 45, ini nanti hanya delapan dikukuhkan. Untuk penaikan dan penurunan bendera,” katanya.

Upacara bakal dihadiri Gubernur DIJ Hamengku Buwono X dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) yang mendapat undangan. Siapa pun yang memasuki istana negara juga wajib menjalani rapid test lebih dahulu. “Total petugas, kru, tamu, dan sebagainya mungkin 150 orang,” jelasnya.

Upacara di Gedung Agung dimulai pukul 07.00. Pelaksanan hanya sampai prosesi pengibaran bendera. Sedangkan detik-detik proklamasi digelar melalui video konfrensi di Bangsal Kepatihan bersama pemerintah pusat. Adapun kegiatan tirakatan yang biasa digelar di Bangsal Kepatihan ditiadakan. “Seremonial dipusatkan di Bangsal Kepatihan. Kita vidcon dengan Istana Negara,” katanya.

Walaupun digelar secara sederhana, masyarakat diminta tetap memeriahkan seremoni kemerdekaan dengan mengutamakan protokol kesehatan. Secara nasional, pemerintah pusat menggelar lomba tentang kemeriahan dan kekhidmatan di saat detik-detik proklamasi.

Lomba dilangsungkan secara virtual, sehingga masyarakat bisa membuat video singkat 3-5 menit yang nantinya dikirim ke panitia pusat peringatan HUT ke-75 RI. “Silakan saat masyarakat melakukan penghormatan tepat pukul 10.17 itu disyuting dan video, kira-kira tiga menit terus nantinya dikirimkan ke pemerintah pusat,” katanya.

Gubernur DIJ HB X tidak melarang masyarakat merayakan peringatan HUT ke-75 RI. Namun ia berharap warga mengutamakan penerapan protokol kesehatan. “Saya tidak akan melarang, tapi tolong (disiplin) karena kondisinya masih fluktuatif,” jelasnya. (tor/laz)

Jogja Raya