RADAR JOGJA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman akan membunyikan 20 early warning system (EWS) sebelum detik-detik Kemerdekaan ke-75 RI hari ini (17/8) sekitar pukul 10.00. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan menjelaskan, membunyikan EWS saat detik-detik proklamasi adalah acara rutin tahunan.

Sebelumnya, sosialisasi kepada warga juga dilakukan agar tidak menimbulkan keresahan. Mengingat fungsi dari EWS digunakan untuk peringatan dini akan adanya banjir lahar hujan dan awan panas Merapi. “Ada sosialisasi agar warga tidak terkejut dengan adanya suara EWS yang berbunyi,” jelas Makwan Minggu (16/8).

Dijelaskan, EWS tersebar di 20 titik. Mulai dari Kecamatan Ngemplak, Cangkringan, Pakem, hingga Turi. Perawatan rutin selalu dilakukan dengan cara membunyikan EWS secara pelan dan melakukan pengecekan secara berkala. Terlebih, EWS yang berada jauh dari lokasi petugas jaga. “Ada juga yang rusak dan harus diganti karena terkena petir maupun dijadikan sarang binatang,” katanya.

Tidak hanya itu, upacara pengibaran bendera raksasa untuk menyambut hari Kemerdekaan di Bukit Klangon, Cangkringan, juga telah dilakukan kemarin. Seorang peserta upacara, Beni asal Kotagede Jogja, mengaku kaget saat para pengunjung diminta mengikuti upacara pengibaran bendera dengan lebar lebih dari delapan meter itu.

Tak menunggu lama, Beni beserta istri dan teman-temannya mulai mengikuti barisan bersama relawan, aparat kepolisian, tentara dan juga rim SAR. “Sebelumnya sudah melihat proses gladi bersih upacara,” katanya.

Kali pertama melakukan upacara dengan hamparan pemandangan Gunung Merapi, Beni sadar setiap orang memiliki peran yang beragam. Terlebih peserta datang dari berbagai elemen masyarakat, ia yakin mereka memiliki peran masing-masing dalam menjaga kemerdekaan dan keutuhan bangsa. “Ketika orang-orangnya punya perbedaan dan disatukan, maka akan menjadi kekuatan yang sangat besar,” jelasnya.

Dalam amanat pembina upacara disampaikan, dipilihnya Bukit Klangon, Glagaharjo sebagai lokasi upacara pengibaran bendera dikarenakan lokasi yang pernah diserang dan rumah-rumah warga dibakar oleb Belanda. Bahkan kala itu, pimpinan desa dan sejumlah warga ditangkap lalu dieksekusi mati. (eno/laz)

Jogja Raya