RADAR JOGJA – Sebanyak 625 warga binaan pemasyarakatan (WBP) di sembilan lembaga permasyarakatan di DIJ mendapat remisi atau pengurangan masa pidana. Lima di antaranya adalah anak-anak.

Kakanwil Kementerian Hukum dan HAM DIJ Indro Purwoko menjelaskan, dari 625 WBP, tujuh di antaranya dibebaskan. Rata-rata warga binaan mendapatkan remisi satu hingga enam bulan.

Selain pelaku tindak pidana umum, 93 di antaranya adalah penerima remisi dari tindak pidana khusus. Diantaranya 87 orang dari kasus narkoba, lima orang kasus pencucian uang, dan seorang kasus human trafficking. “Untuk kasus narkoba, dua diantaranya langhsung bebas,” jelasnya.

Dia menambahkan, selama pandemi Covid-19 aktivitas sidang dan kunjungan di lembaga permasyarakatan (Lapas) dan rumah tahanan (Rutan) seluruhnya berbasis daring. “Untuk kunjungan virtual. Ada sarana ketemu pakai video call,” ungkapnya.

Narapidana yang akan dikirim ke lapas dan rutan akan menjalani rapid test dan isolasi 14 selama hari. “Yang hasilnya non reaktif juga tetap diisolasi dua minggu,” katanya.

Menurutnya, tingkat keterisian lapas dan rutan di DIJ belum melebihi kapasitas. Sejauh ini ada 1.293 penghuni dari total kapasitas 1.882. “Kalau kapasitas masih memungkinkan. Hanya di Sleman saja yang kapasitasnya lebih sedikit. Yang lainnya di bawah. Bahkan anak-anak kapasitasnya 90, isinya cuma delapan,” ujarnya.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X mengatakan, warga binaan yang menerima remisi bebas diharap segera kembali ke lingkungan masyarakat dan bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Mereka tidak perlu merasa canggung bersosialisasi di masyarakat.

Dikatakan, banyak eks warga binaan yang memiliki kehidupan lebih baik. “Tidak terlibat lagi tindakan yang melanggar hukum. Jangan sampai mantan warga binaan yang justru tidak bertobat dan kembali menjadi residivis,” ungkapnya. (tor/laz)

Jogja Raya