RADAR JOGJA – Klenteng Tjen Ling Kiong atau Zhen Ling Gong Kamis (13/8) tepat berusia 139 tahun. Kelenteng yang lebih familiar dengan sebutan Klenteng Poncowinatan ini merupakan kelenteng tertua di Kota Jogja.

Tempat ibadah agama Khonghucu yang berada di kawasan Poncowinatan ini berulang tahun pada tanggal 24 bulan 6 penanggalan Imlek. “Ulang tahun kali kami maknai berbeda karena di tengah pandemi Covid-19,” kata pengurus kelenteng, Margomulyo kepada Radar Jogja Kamis (13/8).

Sebelum pandemi, setiap hari jadi kelenteng selalu ada acara sembahyang bersama. Saat pandemi, acara sembahyang bersama ditiadakan. Melainkan sembahyang pribadi secara terbuka. “Kami tetap buka untuk umum, tapi sifatnya ibadah secara pribadi,” ujarnya.

Biasanya setiap hari ulang tahun kelenteng bisa dipenuhi warga Tionghoa yang berdoa bersama hampir 100-200 orang dalam sehari. Kali ini hanya berdatangan dari kalangan pribadi maupun keluarga yang berdoa sendiri-sendiri.

SEMBAHYANG SENDIRI: Umat bersembahyang di Klenteng Tjen Ling Kiong, Poncowinatan, Jetis, Jogja,
(13/8). Akibat pandemi Covid-19, dalam perayaan ulang tahun ke-139 tidak diadakan sembahyang bersama. ( ELANG KHARISMA/RADAR JOGJA )

Harapan untuk doanya pun ditujukan untuk pribadi masing-masing. “Hari ulang tahun di masa pandemi ini kami maknai prihatin. Semua dengan keterbatasan, tapi nggak masalah karena ini untuk mencegah penularan,” ucapnya.

Hari ulang tahun kelenteng tidak selalu dimaknai dengan kemeriahan atau foya-foya secara berlebihan, bak Hari Raya Imlek. Perayaan seperti biasa selalu dilakukan dengan cara sederhana, syukuran bersama warga Tionghoa.
“Kalau kelenteng kan sifatnya lebih ke ibadah ya. Jadi ini tadi kita syukuran sesama pengurus saja. Biasanya bareng-bareng dengan jemaat,” jelasnya.

Pantauan Radar Jogja, penegakan protokol kesehatan diterapkan seperti adanya fasilitas cuci tangan dengan sabun, dan penyediaan hand sanitizer. Sebelumnya, tempat ibadah dilakukan disinfeksi ruangan secara maksimal. Aktifitas berdoa juga dibatasi, pagi pukul 08.00 sampai 20.00. “Kelenteng beridiri tahun 1881. Kami masih eksis berkat kebersamaan saling memiliki antara masyarakat Tionghoa dan penduduk sekitar. Ini yang menjadikan kelenteng bisa bertahan sampai sekarang,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya