RADAR JOGJA – Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) juga merupakan kelompok yang rentan tertular Covid-19. Untuk DIJ, perawatan ODGJ suspek korona dilakukan di RS Jiwa Grhasia yang juga menjadi RS rujukan Covid-19.
Direktur RSJ Grhasia Ahmad Akhadi mengatakan, RSJ Grhasia mulai menjadi rujukan sejak 1 April. Saat ini RS memiliki kapasitas 13 tempat tidur. “SK Gubernur keluar 17 Maret. Kami mempersiapkan untuk mengubah perawatan jiwa jadi infeksius kira-kira 13 hari, selesai 1 April kami bisa merawat,” katanya Rabu (12/8).

Saat ini ada 44 pasien yang telah mendapat perawatan. Empat di antaranya meninggal dunia. Seluruhnya diketahui memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Namun pasien itu belum terkonfirmasi positif karena hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar. “Sebagian sudah pulang. Yang meninggal dua sudah di-swab, sisanya belum,” katanya.

Menurutnya, ODGJ merupakan kelompok dengan risiko penularan tinggi, terutama ODGJ terlantar atau menggelandang. Seajuh ini ada lima ODGJ terlantar mendapat perawatan di RSJ. “Sekitar 5 persennya terlantar. Tapi saat masuk sudah parah kondisinya,” jelasnya.

Juru Bicara Pemprov DIJ untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menjelaskan, terdapat penambahan 20 kasus positif Rabu (12/8). Akumulasi kasus positif menjadi 900 kasus, sedangkan kasus aktif 241 kasus. “Kasus terbaru disebut dengan kasus 886-905,” katanya.

Penambahan kasus positif merupakan hasil pemeriksaan 888 sampel dari 761 orang. Adapun distribusi kasus berdasarkan riwayatnya yakni tiga pasien pernah melakukan perjalanan ke luar daerah, 14 kasus hasil kontak tracing, serta tiga kasus masih dalam tahap penelusuran.

Berty juga melaporkan penambahan 24 pasien yang sembuh, sehingga total menjadi 633 kasus. Namun terdapat satu pasien yang meninggal dunia. Pasien terkonfirmasi positif yang kini meninggal menjadi 26 kasus. “Case recovery rate DIJ adalah 70,33 persen dan case fatality rate 2,89 persen,” paparnya.

Saat ini upaya swab masal yang menyasar tenaga kesehatan dan medis telah rampung dilaksanakan. Namun untuk swab kontak erat kasus positif terus berlanjut. “Tetap dilaksanakan tracing dan swab pada kontak erat pasien positif,” tambahnya. (tor/laz)

Jogja Raya