RADAR JOGJA – Belajar daring masih menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat, salah satunya warga RW 09 Ngampilan, Kota Jogja. Hingga akhirnya pengurus Masjid Nurul Huda Purwodiningratan tergerak hatinya untuk menyediakan fasilitas tempat dan wifi untuk anak-anak belajar di masjid ini.

“Ini kami mulai sejak awal Agustus. Kami melihat dan mendengar keluhan warga karena keterbatasan biaya untuk beli pulsa dan beberapa kesulitan dalam membantu anaknya belajar,” ujar salah seorang pembimbing dari kegiatan yang diberi nama “Sinau Bareng” Feri Setyawan saat ditemui Radar Jogja, Selasa(11/8).

Ia dan teman-temannya kasihan dengan para warga. “Ada yang sampai menjual beras untuk beli pulsa. Kami pengurus masjid kemudian berinisiatif mengadakan Sinau Bareng untuk warga yang tidak mampu. Kami sediakan wifi gratis, karena kan sekolahnya online sekarang,” tambahnya.

Dia mengatakan, wifi diadakan dari beberapa donasi dan sumbangan dari masjid itu. “Ini sudah berjalan selama kurang lebih dua minggu. Karena belum ada tanggapan dari pemerintah soal belajar mengajar ini, jadi kami berinisiatif sendiri,” lanjutnya.

Sudah ada 52 anak yang ikut belajar dalam Sinau Bareng ini. “Ini dari warga sekitar sini dulu, tapi ada warga tetangga sebelah yang belajar di sini juga tidak apa-apa. Umumlah,” kata Feri.

Dari 52 anak yang sudah terdafatr itu tidak pasti setiap hari sebanyak itu. Tergantung tugas dari masing-masing anak. “Awalnya juga hanya sekitar 30 anak, tapi lama-lama bertambah. Belajarnya setiap Senin hingga Jumat pukul 08.00-12.00 seperti jam sekolah,” paparnya.

Dalam Sinau Bareng ini tidak dipungut biaya alias gratis. Para pembimbing juga dari warga sekitar. “Jadi sistemnya yang besar mengajari adik-adiknya. Kayak yang SMA atau SMK nanti ngajari yang SD dan TK. Kalau ada yang kesulitan, ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, nanti dibantu kakak-kakaknya,” ujar dia.

Dari pantauan Radar Jogja, masjid tempat belajar itu masih minim fasilitas. Bangku juga terbatas, sehingga anak-anak banyak yang tidak memakai bangku dalam belajar. Hanya pakai alas lantai. Ke depan, Feri menyebutkan Sinau Bareng ini akan dikelola lebih baik dan bisa terprogram.

Untuk saat ini yang terpenting anak-anak bisa mnegerjakan tugas dan nyaman. “Rencana kami program semi pesantren tapi pelan-pelan. Ini kami akan membantu sampai nantinya mereka sekolah kembali secara tatap muka di sekolah,” katanya

Salah satu anak yang belajar di Sinau Bareng, Muhammad Syahqi, 15, pelajar kelas 10 SMKN 3 Kota Jogja. Dia merasa lebih terbantu dengan adanya belajar di masjid itu. “Soalnya kalau di rumah belajar sendiri susah tidak ada yang mengajari,” kata Syahqi.

Kendalanya saat belajar di rumah sering susah menangkap materi. Apalagi pelajaran yang berbau hitungan seperti matematika dan sebagainya. “Internet juga boros, biasanya sekitar Rp 100 ribuan per bulan,” kata lulusan SMP N 11 Kota Jogja ini.

Hal serupa juga diungkapkan teman Syahqi, Brahmantyo Aji, 16, kelas 10 SMAN 10 Kota Jogja. Dia merasa susah saat mengerjakan materi sendiri di rumah. Terlebih dia menggunakan HP milik orang tuanya, bukan milik pribadi.

Dia mengatakan lebih senang jika belajar di sekolah. Di samping bisa bertemu dengan teman-temannya, bisa lebih paham dan jelas jika tatap muka dengan gurunya langsung. “Iya, saya kangen sekolah. Semoga korona cepat selesai biar bisa belajar sama teman-teman,” harapnya. (cr1/laz)

Jogja Raya