RADAR JOGJA – Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro kini aktif dalam kepengurusan Dewan Kebudayaan yang anggotanya baru resmi dilantik Selasa (11/8). Menjabat koordinator Komite Pertimbangan Tak Benda, Notonegoro merupakan salah satu perwakilan Keraton Jogjakarta dalam kelembagaan ini.

Dewan Kebudayaan adalah lembaga yang diangkat Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Bertugas memberikan rekomendasi kepada gubernur dalam hal kebijakan pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan di DIJ. Setelah dibentuk, Dewan Kebudayaan memiliki ambisi untuk menjadikan sumbu filosofis sebagai salah satu warisan budaya dunia UNESCO.

KPH Notonegoro mengatakan, Keraton Jogjakarta memiliki peranan besar dalam upaya pengusulan sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia UNESCO. “Pendaftaran sumbu filosofi sebagai warisan di UNESCO, keraton punya peranan sangat besar karena historinya itu dari keraton juga,” kata menantu HB X itu.

BERI REKOMENDASI: Gubernur HB X saat melantik kepengurusan Dewan Kebudayaan. KPH Notonegoro ikut dilantik dalam lembaga ini untuk mewakili Keraton Jogja. ( YUWANTORO WINDUAJIE/RADAR JOGJA )

Dengan adanya perwakilan keraton di Dewan Kebudayaan, diharapkan proses kerja sama antar stakeholder terkait upaya pengusulan ini bisa terjalin secara sinergis. “Kerja sama itu bisa berlangsung secara kontinyu tanpa ada batas, karena kami ikut bekerja secara langsung,” jelasnya.

Dia menjelaskan, sidang pengusulan di UNESCO sempat tertunda akibat wabah Covid-19. Namun dia optimistis sidang bisa digelar dalam waktu dekat. “Mungkin jadwalnya agak geser-geser, jadi kita masih bisa masuk sebelum jadwal mereka (UNESCO) bersidang lagi,” tutur suami GKR Hayu itu.

Pihaknya terus berupaya memenuhi segala persyaratan kepada UNESCO untuk menjadikan sumbu filosofis sebagai warisan budaya dunia. Salah satunya mempersiapkan produk kebijakan pemerintah terhadap sumbu filosofis sebagai bentuk perhatian terhadap objek budaya itu. “Karena mereka perlu membuktikan bahwa sumbu filosofis ini bukan hanya sesuatu yang ada di masa lampau. Tapi sekarang masih dikagumi dan masa depannya bisa dijamin keberadaannya,” katanya.

Ketua Dewan Kebudayaan Djoko Dwiyanto mengatakan, dalam hitungan bulan, lembagaganya harus segera mempresentasikan usulannya kepada UNESCO. Kegiatan untuk mendukung pengusulan itu pun terus berjalan hingga saat ini. Dewan Kebudayaan optimistis proses itu dapat berjalan lancar.“Jogja secara fisik sudah semakin tampak terlihat. Misalnya Pojok Benteng Lor Wetan itu antara lain saja. Sirip-sirip sumbu itu yang juga harus mendapatkan penanganan,” tandasnya.

Gubernur HB X mengatakan, kebudayaan merupakan salah satu pilar keistimewaan DIJ. Artinya, dalam memelihara keberlanjutan budaya keistimewaan perlu usaha terencana demi menguatkan ketahanan serta memenangkan prioritas kemajuan kebudayaan. “Pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan, sekaligus penyempitan tingkat gini ratio kesenjangan kesejahteraannya,” katanya. (tor/laz)

Jogja Raya