RADAR JOGJA – Berniat untuk refreshing, tujuh orang wisatawan justru terseret ombak saat bermain di bibir Pantai Goa Cemara, Gadingsari, Sanden, Bantul, Kamis pagi (6/8) sekitar pukul 09.30. Kecelakaan laut ini menewaskan dua orang, sementara lima orang lainnya masih dalam pencarian tim SAR.

Bambang Rahayu, kakak koban yang masih dinyatakan hilang menyebut, adiknya ke Pantai Goa Cemara untuk refreshing. Dengan rombongan yang berjumlah 12 orang. Adik Bambang bernama Joko Widodo membawa istri dan empat anak, dan kedua mertuanya.

PILU: Foto keluarga Joko Widodo. Sang ibu (Ulli Nur Rochmi) ditemukan meninggal, sang ayah dan ketiga anaknya masih hilang. Si bungsu (Bintang Ahmad) paling kiri, selamat karena pulang duluan bersama kakek dan neneknya. ( ISTIMEWA)

Selain itu, Joko mengajak keluarga adik iparnya yang terdiri atas tiga orang, kakak iparnya bernama Ahmad Nur Fauzi dan satu orang santri. “Mereka tidak tahu kondisi angin dan ombak,” sebutnya, saat ditemui usai memberikan keterangan kepada petugas gabungan di Pantai Goa Cemara Kamis.

Kata Bambang, Joko hanya menelepon untuk menitip kerjaan. Joko juga mengabarkan sedang pergi mengajak kedua mertuanya ke pantai sekitar pukul 09.00. Kemudian sekitar pukul 10.00 dia mendapat kabar jika adiknya terseret ombak di Pantai Goa Cemara.

Kendati tidak melihat langsung kejadiannya, Bambang menyebut keponakannya bermain bola di bibir pantai ditemani Fauzi. Saat terseret ombak, Joko dan istrinya, Ulli Nur Rochmi, hendak menolong. Tapi justru ikut terseret ombak yang kabarnya saat itu cukup besar.

Ulli dan Fauzi sudah ditemukan, namun nyawanya tidak tertolong. Jenazah Fauzi kemarin dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Al-Husain, Krakitan, Salam, Magelang. Sedangkan Ulli dimakamkan di kediamannya, Cemoro, Tempel, Sleman.

“Keluarga masih mendoakan dan berharap adik saya ditemukan dengan selamat. Kami lintas jamaah ke sini untuk memberikan dukungan spiritual dan fisik,” ujar Bambang dengan wajah sedih.

Sementara itu, anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Mukijan mengaku melihat lima orang yang terdiri atas empat anak-anak dan satu orang dewasa bermain bola di bibir pantai. Dia sudah mengingatkan agar tidak bermain air di tepi pantai. “Yang paling tua jawab, ya nanti saya suruh naik,” ujarnya menirukan Fauzi.

Setelah itu, Mukijan ke kantornya. Lalu melihat air mulai pasang. Dia pun kembali menghampiri dan memperingatkan rombongan itu untuk tidak bermain di bibir pantai. Tapi peringatannya yang kedua masih diabaikan. Dan ketika Mukijan meninggalkan Pantai Goa Cemara untuk takziah, dia mendapat kabar adanya rombongan laka laut sekitar pukul 09.30.

Komandan SAR Wilayah IV Dwi Rias Pamuji menyebut, Pantai Goa Cemara sudah kali keempat terjadi laka laut sejak dibuka tahun 2005 silam. Tapi laka kali ini menjadi yang terbesar, karena jumlah korbannya sampai tujuh orang. Pada laka sebelumnya, korban hanya berkisar dua orang.

Dwi mengungkap, dalam laka laut kemarin dua korban yang ditemukan awalnya masih selamat. Sebab, denyut nadinya masih terasa. Tapi dalam keadaan pingsan. Jarak antara pantai menuju puskesmas yang jauh, membuat korban tidak berhasil diselamatkan. Sesampainya di Puskesmas Sanden, korban Ulli dan Fauzi sudah dinyatakan meninggal.

Turut dijelaskan, ombak di Pantai Goa Cemara cukup tinggi pada bulan Juli-Agustus, yaitu mencapai 2,5-4 meter. Selain itu, Pantai Goa Cemara terletak di bibir palung. Jadi jika ada ombak besar yang datang, dengan seketika semuanya terseret.

Saat ini tim gabungan yang berjumlah 50-75 personel terus melakukan pencarian di tepi Pantai Goa Cemara terhadap lima orang korban yang dinyatakan hilang. Pencarian dilakukan dengan penyisiran hingga radius dua kilometer ke sisi barat dan timur titik awal korban tenggelam. Namun, arah angin dan ombak terprediksi condong ke barat.

“Pencarian akan dilakukan 24 jam selama tiga hari. Jika masih belum ditemukan, dan keluarga meminta diperpanjang, akan ditambah dua hari,” papar Dwi.

Kecolongan saat Ingin Jadikan Pariwisata Lokomotif Ekonomi


INSPEKSI: Bupati Bantul Suharsono (tiga dari kiri) didampingi Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono (dua dari kanan) bertanya kepada petugas terkait ketersediaan fasilitas keamanan di Pantai Goa Cemara (6/8). ( SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )

Ketua Komisi B DPRD Bantul Wildan Nafis mengaku kecolongan dengan adanya kecelakaan laut di Pantai Goa Cemara, Gadingsari, Sanden, Bantul. Padahal komisinya sedang membahas rencana induk pengembangan pariwisata daerah (Ripparda) yang mendukung visi Pemkab Bantul menjadikan pariwisata sebagai lokomotif ekonomi.

Pariwisata, disebut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini, dapat memberikan pendapatan asli daerah (PAD) yang besar. Selain itu, ekonomi masyarakat di sekitarnya akan terdongkrak. “Jadi laka laut ini termasuk kecolongan,” ucapnya ditemui saat meninjau laka laut di Pantai Goa Cemara, Kamis (6/8).

Kendati tidak ada papan imbauan untuk tidak bermain air di bibir pantai, Wildan yakin petugas sudah mengingatkan wisatawan. Selanjutnya dia berharap laka laut dapat ditekan. “Ke depan harus membangun citra pariwisata Bantul yang aman. Laka laut dapat membuat pengunjung takut,” cetusnya.

Bupati Bantul Suharsono atas nama kepala daerah mengucapkan terima kasih kepada semua petugas. Dia pun mengapresiasi gerak cepat petugas. Kendati sempat mengkritik petugas yang tidak memanfaatkan fasilitas yang sudah diberikan Pemkab Bantul secara maksimal.
“Sudah ada dua alat jet ski, tapi tidak bisa langsung diturunkan. Seharusnya setiap hari dipanasi. Supaya ketika ada kejadian seperti ini bisa langsung digunakan,” sesalnya.

Selain itu Suharsono menganjurkan adanya kerja sama antarwilayah pantai. Sebab, Bantul merupakan kawasan yang rawan bencana, sehingga semua petugas harus selalu siaga. “Semua elemen harus meningkatkan pelayanan,” perintahnya.

Sementara Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono mengimbau warga untuk berhati-hati ketika berwisata di pantai. Selain itu, dia berharap warga tidak mencuri kesempatan untuk berlibur saat anak-anak melakukan pembelajaran online. “Situasi pandemi, anak tidak ke sekolah tapi jangan dimanfaatkan untuk mengajak anak pergi berwisata,” tegasnya.

Pengelola wisata pun disebut AKBP Wachyu masih sederhana, karena dikelola pokdarwis. Sehingga sarana dan prasarananya minim. Keamanan dan keselamatan pengunjung hanya berupa imbauan. Itu pun dilakukan di hari libur saja. “Kalau hari biasa agak longgar. Sepatutnya pengelola memberikan rambu-rambu,” kata Wahyu. (cr2/laz)

Jogja Raya