RADAR JOGJA – Museum Sonobudoyo menggelar pameran perak bertajuk “Rajata, Perak dan Kisah di Antarannya”. Digelar di Gedung Pameran Temporer, Museum Sonobudoyo, 4 hingga 24 Agustus mendatang. Diselenggarakan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

RAJATA: Salah satu koleksi perabot berbahan perak dipamerkan di Museum Sonobudoyo, Ngupasan, Jogja, (5/8). pameran digelar untuk menceritakan kisah perjalanan perak sejak berabad-abad silam.(YUWANTORO WINDUAJIE/RADAR JOGJA)

Kepala Museum Sonobudoyo Setyawan Sahli menjelaskan, Rajata adalah sebutan perak dalam bahasa Sansekerta. Perak amat lekat dengan Jogjakarta seiring dengan pertumbuhan Kotagede sebagai sentra kerajinan perak yang diperkirakan muncuk sejak periode Kerajaan Mataram Islam sekitar abad 16.

“Di sisi lain, Kunnstambachtsshool atau sekolah seni kerajinan yang didirikan oleh Java Instituut di Museum Sonobudoyo, turut andil dalam perkembangan ornamen seni hias pada kerajinan perak,” katanya Rabu (5/8).

Pameran menceritakan perjalanan perak sejak berabad-abad silam. Sejarah membawa cerita perak dan Sonobudoyo pada satu benang merah melalui Kunnstambachtsshool. “Kami berharap industri perak terus lestari di Jogja dan Kotagede khususnya,” tambahnya.

Kepala Seksi Koleksi, Konservasi, dan Dokumentasi Eri Sustiadi menambahkan, sejak krisis ekonomi 1998, banyak kolektor atau perajin yang menjual perak dalam bentuk kiloan untuk dilebur. Bahkan hingga saat ini kebiasaan melebur perak masih ditemui.

Sonobudoyo mencoba menyelamatkan koleksi kerajinan perak kuno yang masih tersisa. Sebagian koleksi diambil dari para perajin di Kotagede yang menjualnya dengan harga cukup mahal. Sebagian koleksi lainnya didapat dari Java Instituut.

RAJATA: Salah satu koleksi perabot berbahan perak dipamerkan di Museum Sonobudoyo, Ngupasan, Jogja, (5/8). pameran digelar untuk menceritakan kisah perjalanan perak sejak berabad-abad silam.(ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA)

Saat ini Museum Sonobudoyo memiliki sekitar 300-an koleksi perak kuno. Sebanyak 20 koleksi diambil dari perajin perak di Kotagede. Koleksi paling tua berasal dari tahun 1930-an, seperti tea set atau tempat minum teh, mangkok, stempel, dan wadah rokok. “Kalau dari museum ada sekitar 75 koleksi perak yang dipamerkan,” ungkapnya.

Meski dalam kondisi terbatas, pengunjung bisa menyaksikan langsung pameran perak dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Jumlah pengunjung yang ada di ruang pameran juga dibatasi sebanyak 25 orang. Pengunjung dapat menikmati pameran dalam waktu sekitar 30 menit. (tor/laz)

Jogja Raya