RADAR JOGJA – Pembebasan lahan di Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman dinilai penting karena merupakan titik kumpul tiga jalur tol. Yaitu Jogja-Solo, Jogja-Bawen dan Jogja-Cilacap. Ada 277 bidang tanah yang akan dibebaskan di sana.

“Tirtoadi ini menjadi lokasi seksi karena menjadi titik simpul nantinya, antara tol Jogja-Solo, Jogja-Bawen, dan Jogja-Cilacap,” kata Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIJ Krido Suprayitno saat sosialisasi ke warga terdampak, Selasa (4/8).

Desa Tirtoadi merupakan satu-satunya desa di Kecamatan Mlati yang terdampak pembangunan tol. Nantinya, lokasi Tirtoadi ini pembangunanya akan dibuat elevated atau melayang. “Dengan jumlah bidang terdampak sebanyak 277 bidang,” tambahnya.

Menurut dia, setelah disisir dari 227 bidang tersebut, ada kasus di satu bidang yang sama, setengah terkena proyek Jogja-Solo dan setengahnya terkena Jogja-Bawen. “Ini ada lima orang yang mengalami situasi ini,” jelas mantan Kepala Pelaksana BPBD DIJ itu.

Untuk mengurangj keresahan tersebut, Krido dan tim mencoba untuk melakukan percepatan pemberkasan. Sehingga ketika izin penetapan lokasi telah terbit, waktu pemasangan patok tidak jauh berbeda dengan Jogja-Solo. “Tetapi dengan catatn pemberkasan juga harus ada percepatan. Dan itu tadi juga ditanggapi respon positif oleh masyarakat, bahkan mereka meminta tiga minggu selesai,” jelas mantan Camat Berbah itu.

Dia berharap, nantinya warga mau menerima ganti kepemilikan dengan uang, bukan dalam bentuk tanah. Karena jika dalam bentuk tanah, justru lebih merepotkan ketika mencari ruang tanah. Dengan begitu, masyarakat akan memiliki keleluasanan memilih tempat atau tanah. “Tetapi harus tetap konsultasi dengan kami. Apakah lokasi yang dipilih sesuai tata ruang atau tidak, atau akan kami cek akan terkena proses Jogja-Cilacap atau tidak,” harap dia.

Pembebasan tanah untuk tol di Tirtoadi juga berdampak pada bangunan cagar budaya. Berupa rumah limasan yang berada di Dusun Pundong 2, Tirtoadi, Mlati. Diketahui bangunan tersebut merupakan posko tentara Indonesia saat berperang dengan Belanda. Bangunan yang telah dinobatkan sebagai salah satu Cagar Budaya melalui Surat Keputusan Bupati Sleman pada 2017. “Sekitar 16.5 meter, separo tanah dan bangunan kena. Dari luas bangunan sekitar 60 meter x 30 meter persegi,” kata salah satu pemegang hak waris cagar budaya, Widagdo Marjoyo (66).

Sebagai ahli waris mereka menerima jika nantinya cagar budaya tetap terdampak. Tapi dia berharap bangunan tersebut tetap berdiri dan jangan sampai punah atau dihapus. “Karena bangunan itu memliki niali historis yang tinggi, dan pernah mendapat penghargaan dari Gubernur DIJ,” sambungnya. (cr1/pra)

Jogja Raya