RADAR JOGJA – Perilaku seksual menyimpang Bambang Arianto (BA) sudah diketahui Rektorat Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jogja sejak 2018 lalu. Sejak itu pula Bambang tidak lagi menjadi dosen tamu di UNU Jogja. UNU Jogja mendorong kasus dosen swinger itu diselesaikan secara hukum.

Ketua Pengurus Wilayah Fatayat NU DIJ Khotimatul Khusna mencatat, sudah ada tiga perempuan yang melapor sebagai korban BA. Aduan pertama kali Mei 2018. Dari pengakuan korban dikatakan mendapatkan kekerasan seksual dengan ajakan swinger atau berganti pasangan. “Kami sudah mengumpulkan data berupa chatting dan rekaman suara. Karena BA saat itu berada di bawah naungan UNU sehingga kami melaporkan ke UNU untuk mengambil sikap,” katanya dalam konferensi pers di UNU Selasa (4/8).

Dari penjelasan korban, modus BA kepada korban adalah penelitian. Bahkan BA memakai nama istrinya untuk meminta korban melakukan aksi swinger. Pihaknya pun sudah melakukan pendampingan. “Pendampingan kami lakukan terus dengan konsultasi dan konseling terhadap para korban. Agar tidak terjadi lagi trauma atas kejadian ini,” imbuhnya.

Sedang Rektor UNU Jogja Prof Purwo Santoso menegaskan, BA bukanlah dosen UNU. Hanya pernah membantu pada 2017 hingga awal 2018 sebagai dosen tamu untuk materi kepenulisan dan literasi. Sesuai dengan bidang keahlian yang bersangkutan. “Ini (dosen tamu) tidak qualified disebut dosen dalam pengertian standar karena hanya kami minta untuk menyelenggarakan sesi-sesi tertentu,” kata mantan Dekan Fisipol UGM itu.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) UNU,Muhammad Mustafid mendorong penuh proses hukum karena kasus ini. Karena sangat merugikan kampus yang selalu mengedepankan nilai-nilai Nahdlatul Ulama yang berlandaskan ajaran Islam.

Karena segala jenis penyimpangan baik secara hukum maupun syariat dan merugikan banyak orang tidak dapat ditolerir sedikitpun untuk mewujudkan kampus anti kekerasan. “Saat ini sedang kami kumpulkan data-data dan bukti kalau nanti diperlukan dan kemudian layak kami bawa akan kami bawa,” tuturnya.

Gus Mustafid menambahkan tidak mendapat informasi terkait track record BA tentang pelecehan seksual sebelum 2018. Sepengetahuannya, BA hanya memiliki kapasitas atau kemampuan menulis yang baik. Sehingga kompetensi tersebut dibutuhkan di UNU. Maka awal tahun 2018 diupayakan BA bergabung sebagai dosen pada Prodi Akuntansi.

Namun, karena dari master ilmu politik dan profesinya adalah peneliti. Sehingga ditolak dari PDDikti karena tidak sesuai master bidang Akuntansi. Karena dua alasan itu maka usulan tersebut dicabut dari PDDikti per akhir Februari. “Keterlibatan BA dalam konteks UNU karena ada kebutuhan dalam mata kuliah dasar literasi dan kepenulisan. Jadi bukan dosen tetap atau dosen tidak tetap tapi statusnya hanya dosen tamu,” tambahnya.

Mengetahui adanya informasi dosen swinger itu berdasarkan laporan dari PW)Fatayat NU DIJ bahwa BA melakukan pelecehan seksual kepada berbagai korban perempuan melalui chating. Laporan tersebut disampaikan ke rektorat dan langsung melakukan investigasi. “Dan ternyata benar adanya maka sejak 2018 tidak kami pakai lagi untuk program-program agenda di UNU,” ucapnya.

Bahkan sebagai respon terhadap laporan-laporan tersebut. UNU mendirikan pusat studi gender (PSG) dan pusat studi ketahanan keluarga (PSKK) sejak 2018. Hal ini sebagai bentuk komitmen dan gerakan kampus yang memiliki perspektif gender yang sensitif terhadap hak-hak perempuan dan perlindungan kaum perempuan terhadap kekerasan.

Selain itu, UNU juga membuka pusat aduan atau crisis center serta memberikan fasilitas pendampingan bagi para korban. “Ini bentuk bahwa kami sangat peduli dan menyesalkan kejadian tersebut. Berempati terhadap korban-korban dari perilaku BA,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Raya