RADAR JOGJA – Wacana dihentikannya bantuan sosial (Bansos) selama pandemi Covid-19 disesalkan warga. Karena selama ini bansos penting untuk menyambung keberlangsungan hidup masyarakat. Terutama bagi warga miskin tidak mampu.

Wuryani salah satunya. Pemegang kartu menuju sejahtera (KMS) sejak 13 tahun lalu menyebut, selama pandemi bisa menyambung hidup karena mendapat program bantuan sosial dari pusat yakni bantuan pangan non tunai (BPNT) Rp 200 ribu per bulan selama tiga bulan berupa paket sembako. Dan program keluarga harapan (PKH) Rp 500 ribu setiap tiga bulan sekali yang diberikan tiap bulan. “Alhamdulillah ada program bansos ini bisa membantu sekali,” kata wanita 51 tahun ditemui di rumahya Senin (3/8).

Warga RT 22, RW 06 Surokarsan MG 2/497 Mergangsan itu berkeseharian hanya sebagai ibu rumah tangga. Suaminya buruh bangunan yang juga terdampak Covid-19 sehingga tidak bekerja sampai saat ini. Sementara masih harus menyekolahkan salah satu anaknya yang masih duduk di bangku kelas 11. “Suami saya sekarang kebanyakan nganggur-nya daripada kerja. Gimana caranya gali lubang tutup lubang,” ujarnya.

Pun dia bersama suami dan dua anaknya harus tinggal dengan tiga keluarga yang masih satu saudara. Dalam satu rumah warisan mertuanya itu harus dihuni empat keluarga. Dia tinggal di ruangan yang diskat dengan keluarga lain berkukuran kurang lebih 3×6 meter. “Ya sesak tapi mau gimana lagi daripada ngontrak,” tuturnya.

Karena itu, dua program dari pusat tersebut sangat membantunya untuk bisa menyambung hidup. Terlebih membiayai pendidikan anaknya. Namun demikian, ia tidak termasuk kategori untuk menerima bantuan sosial tunai (BST) Kota Jogja. Ini lantaran telah mengikuti dobel program dari pemerintah pusat. “Tidak dapat BST yang tunai dari kota. Terima saja, sudah bersyukur,” ucapnya.

Dia tidak merasa keberatan dengan hal itu. Dua program itu dinilainya penting karena sangat membantu warga, terutama PKH untuk keberlangsungan pendidikan anak nomor duanya sampai dengan kelulusan. “Saya nggak keberatan tidak dapat BST daripada keberatan PKH nya dicabut anak saya tidak dapat bantuan. Kan sudah dapat dobel-dobel,” tambahnya.

Pengurus RT 022, Adam Arifin menambahkan seluruh warga RT 022 berjumlah 11 kepala keluarga. Kesemuanya ini telah menerima bansos baik dari pusat, provinsi, maupun kota. “Dua KK sudah dapat bantuan dari pusat, sisanya dari provinsi dan kota,” katanya.

Dia menjelaskan, diantara KK yang menerima bantuan BST kota senilai Rp 1.800.00 tidak menerima program lain baik pusat maupun provinsi tapi merupakan warga kurang mampu yang terdampak. “Iya ada 4 KK yang dapat dari pemkot langsung uangnya diberikan ke keluarga penerima manfaat,” imbuhnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Jogja, Agus Sudrajat mengatakan evaluasi BST dariAPBD Kota Jogja sudah dipastikan ada 525 penerima yang mendapatkan double atau sejumlah program. Seperti program keluarga harapan (PKH), program sembako, BST pusat dan BST Provinsi. “Artinya dana yang ini nanti akan kami kembalikan ke khas daerah,” katanya.

Agus menjelaskan penerima BST APBD Kota dengan syarat dan catatan yaitu bagi penerima warga tergolong kurang mampu yang belum menerima bantuan sosial dari program lain yang serupa. Jumlah 525 tersebut selain terbanyak karena double program juga faktor lain. Seperti menunda dan belum mengambil karena masih berada di luar kota. “Tapi masih kami berikan kesempatan yakni boleh mengambil dan disalurkan maksimal 8 Agustus di kantor pos,” ujarnya. (wia/pra)

Jogja Raya