RADAR JOGJA – Kiprah Djoko Pekik Irianto di dunia olahraga nasional tak perlu diragukan lagi. Guru Besar Ilmu Gizi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu telah lama berkecimpung di dunia tesebut. Beragam peran seperti pengajar di kampus, pejabat di Kemenpora, pelatih fisik di klub profesional, hingga ketua KONI DIJ. Namun, siapa sangka Djoko awalnya tak punya niatan untuk berkarier di bidang olahraga.

Djoko Pekik Irianto lahir dari keluarga sederhana di Gerobogan, Jawa Tengah. Sejak duduk di bangku SMP, Djoko sudah ditinggal wafat sang ayah. Kondisi itu membuat Djoko harus berjuang cukup keras agar tetap bisa bersekolah.

Kondisi itu pula yang membuat Djoko muda memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke STM (Sekolah Teknik Menengah) setelah lulus SMP. Lulus dari SMP di tahun 1981, dia pun hijrah ke Jogjakarta dan bersekolah di STMN 1 Jogjakatta. “Saat itu pikiran saya setelah lulus dari STM bisa langsung bekerja,” kisahnya kala ditemui Radar Jogja.

Di STMN 1 Jogjakarta, Djoko mengambil jurusan mesin produksi. Djoko mengaku skil yang didapatkan dari jurusan tersebut masih dikuasai hingga sekarang. Mengelas pagar dan beberapa pekerjaan lain yang sesuai dengan jurusan itu masih dia kuasai dengan baik.

Setelah lulus dari STM, Djoko memiliki pilihan untuk melanjutkan kuliah di teknik mesin. Namun, jurusan itu justru tidak dia ambil. Djoko justru lebih tertarik mengambil jurusan Pendidikan Olahraga-Kesehatan di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY). Saat itu menurut Djoko, ada beberapa pertimbangan mengapa ia memilih jurusan tersebut. “Kalau saya ambil teknik kan hanya bisa ngajar di STM saja, kalau di olahraga bisa ngajar di mana-mana,” katanya.

Benar saja, sejak saat itu Djoko terus mendalami bidang olahraga dan kesehatan. Puncaknya adalah ketika dia diminta untuk mengisi jabatan sebagai Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga pada Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Jabatan itu dia emban selama enam tahun yakni mulai 2010 dan berakhir di 2016.

Selama nyemplung di dunia olahraga Tanah Air, banyak hal yang dipelajari oleh Djoko. Terutama soal bagaimana perkembangan olahraga di Indonesia yang sampai saat ini belum juga memuaskan.

Menurut dia, ada beberapa hal yang menjadi masalah di olahraga Indonesia. Pertama adalah kesungguhan, baik dari pelaku olahraga itu sendiri maun dari pemerintah. Dari sisi pelaku olahraga misalnya, Djoko mencontohkan bagaimana Korea Utara yang terbilang negara miskin tapi bisa berprstasi di Olimpiade. “Saya sempat berkunjung ke sana dulu dan melihat fasilitas olahraga mereka tak lebih baik dari kita,” katanya.

Sementara itu dari sisi pemerintah, Djoko menyebut selama ini kesungguhan pemerintah untuk memajukan olahraga juga masih kurang. Hal itu terlihat dari besaran dana yang dikucurkan ke Kemenpora. Besaran dana tersebut kurang dari dua persen dari APBN Indonesia. “Vietnam dan Malaysia jauh lebih besar dari kita kalau soal anggaran ke Kemenpora mereka,” jelasnya.

Olahraga pada dasarnya adalah permainan. Permainan untuk mencari siapa yang lebih baik dari yang lain. Kendati demikian, menurut Djoko, mengurusi dunia olahraga itu tidak boleh main-main.(din)

Jogja Raya