RADAR JOGJA – Demi mendapatkan rupiah tanpa bekerja, Joko Sumardi, 38, nekat mengaku sebagai Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) Marsekal Muda Nanang Santoso. Alhasil korbannya, Indah Pastini, terpedaya dan mengirimkan uang tunai sebesar Rp 20,5 juta ke rekening rekan tersangka.

Modus yang digunakan tersangka bukanlah modus baru. Awalnya tersangka mencari nomor gawai korban secara acak. Begitu tersambung, tersangka meminta calon korbannya menebak siapa dirinya. Jawaban nama dari korban lalu menjadi senjata untuk menipu.

“Benar, mengaku sebagai sosok petinggi salah satu lembaga pendidikan militer yang ada di Jogjakarta. Jadi awalnya ini memang korbannya yang menebak-nebak. Tersangka cari foto pejabat di Google lalu dipasang jadi foto profil,” jelas Kapolresta Jogja Kombes Pol Sudjarwoko ditemui di Mapolresta Jogja, Senin (20/7).

Guna mengelabuhi korbannya, Joko menelepon beberapa kali. Dalam sambungan telepon kedua inilah Joko telah mengganti dengan foto profil Marsma TNI Nanang Santoso. Tujuannya untuk meyakinkan korbannya.
Begitu komunikasi terjalin, Joko langsung menawarkan satu unit kendaraan bermesin roda empat. Sistem yang digunakan adalah barang lelang sitaan negara. Dalam komunikasi inipula Joko berperan sebagai petugas Bea Cukai bernama Heru Pambudi.

“Korban awalnya diminta transfer uang sebesar Rp 10 juta, lalu tersangka berganti nomor dan mengaku petugas dari Bea Cukai. Korban diminta transfer lagi Rp 10 juta dan pulsa sebesar Rp 500 ribu,” katanya.

Seiring waktu, korban mulai curiga. Sebab tersangka meminta korban untuk mentransfer sejumlah uang. Permintaan ini, lanjutnya, diluar kesepakatan awal. Berawal dari kecurigaan ini, korban langsung melapor ke Polresta Jogja.

Pasca laporan, tim Satreskrim Polresta Jogja bergerak cepat. Usai penyelidikan muncul fakta mengejutkan. Sosok tersangka ini ternyata berstatus narapidana lembaga permasyarakatan Sibolga Sumatera Utara.

Pihaknya langsung berkoordinasi dengan Polres Tapanuli Tengah dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham. Guna melakukan penjemputan tersangka dari dalam Lapas Sibolga. Polisi juga melakukan penangkapan kepada tersangka Endang Suginingsih.

“Setelah kami identifikasi ternyata tersangka berada di Sumatera Utara tepatnya ada di Lapas Sibolga. Statusnya narapidana kasus pencabulan. Aksi penipuan ini dikendalikan dari dalam lapas. Kalau tersangka dua (Endang) yang menerima uang transfer penipuan,” ujarnya.

Berdasarkan penyidikan, tersangka bukan kali ini saja beraksi. Selain kasus pencabulan, tersangka juga pernah melakukan aksi penipuan. Modus yang digunakan dengan mengaku kenal dengan calon korbannya. Fakta ini dikuatkan dengan pengakuan dari Endang Suginingsih.

Atas aksinya ini, baik Joko dan Endang dijerat dengan Pasal 378 KUHP. Berupa sanksi atas tindakan penipuan. Keduanya mendapatkan ancaman kurungan penjara paling lama empat tahun.

“Vonis kasus pencabulan 12 tahun dan baru menjalani 4 tahun. Masa tahanan tersisa kami tarik ke Jogjakarta dengan tambahan hukuman kasus yang baru,” tegasnya. (dwi/tif)

Jogja Raya