RADAR JOGJA – Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng Sinung N Rachmadi menjelaskan, pihaknya saat ini mengejar target 20 juta pengunjung. Ia masih berharap target ini dapat tercapai sekalipun pandemi belum berakhir. Hal ini dapat terjadi jika kurva terus konsisten menurun lalu melantai.

“Kami akan fokus wisatawan Nusantara. Pada kondisi sebelum pandemi, wisatawan nusantara ke Jateng kami targetkan 51 juta. Pada bulan ketiga, pariwisata mengalami penurunan tajam, maka kami akan menyesuaikan target 20 juta,” jelasnya.

CUCI TANGAN: Penerapan protokol kesehatan di Candi Borobudur. Foto kanan, pengunjung menaiki mobil khusus. (AHMAD SYARIFUDIN/RADAR JOGJA )

Di bulan ketiga, Provinsi Jawa Tengah sudah meraih kunjungan wisata sebanyak 10 juta pengunjung. Ia pun optimistis dapat meraih 10 juta lagi sampai akhir tahun ini. “Dengan asumsi para ahli, angka pandemi akan melandai dan melantai,” katanya.

Kurva disebut melantai jika konsisten pada posisi hijau. Dengan kata lain sudah tidak ada penularan terjadi di tengah masyarakat. “Pada November-Desember akan booming tourism, kami akan mengejar target,” jelasnya.

Ia menjelaskan, para pelaku wisata telah sepakat akan melakukan penilaian mandiri untuk penerapan protokol kesehatan. “Setelah simulasi akan meminta izin kepada Gugus Tugas setempat dan memberitahukan kepada provinsi. Baru setelah dievaluasi, melakukan uji coba. Harapannya Borobudur menginspirasi,” ujarnya.

Sementara itu, pembangunan infrastruktur untuk mendukung KSPN Borobudur mulai digulirkan kembali setelah sempat berhenti selama pandemi. Tidak terkecuali sarana transportasi yang menjadi unsur vital pengembangan pariwisata.

Dirjen Perhubungan Darat Budi Setyadi menjelaskan, pihaknya akan memperjuangkan agar exit tol dan trase kereta api dapat dibangun di Kota Magelang, agar warga dapat merasakan dampak ekonominya. “Untuk pengembangan KSPN Borobudur kami harapkan tidak hanya pengembangan fisik di Borobudur saja. Jadi kalau ke Borobudur minimal ada angkutannya. Harapan saya masyarakat ke Borobudur bisa juga ke Magelang,” jelasnya.

Ia berharap exit tol dapat dibangun dekat dengan Terminal Tidar. “Nanti menjadi TOD (Transit Oriented Development) antarmoda. Pergantian moda antara satu dengan yang lain tidak boleh lebih dari 200 meter. Jadi kalau bus mau ke kereta api, paling 100 meter,” katanya. (asa/laz)

Jogja Raya