RADAR JOGJA – Tahun ajaran baru di DIJ sudah ditetapkan mulai Senin (13/7) lalu. Hanya pelaksanaanya masih melanjutkan belajar jarak jauh. Secara dalam jaringan (daring). Tapi praktiknya tak semudah itu.

Salah satu wali murid Hery Yoseph mengungkapkan, anaknya baru kali pertama masuk ke SD. Warga Pengasih itu mengaku, banyak anak yang terkendala mengikuti sekolah daring. Karena bagi siswa kelas 1 SD masih butuh tatap muda denga guru. Belajar daring belum bisa menjadi jawaban, sebab kadang tanpa kontrol anak justru berselancar di dunia maya jika tanpa pengawasan. “Pandemi ini harus menjadi pengungkit kesadaran dan kepedulian manusia sebagai makhluk sosial. Namun masuk sekolah pertama dan kemudian libur lagi entah sampai kapan itu cukup merepotkan,” selorohnya.

Wali murid lainnya, Parokin, 37, warga Sendangsari, Pengasih mengungkapkan, tinggal di lokasi blank spot membuat sekolah di hari pertama anaknya ruwet. Orang tua ikut pusing menjelaskan kepada anak agar materi atau tugas dari sekolah selesai dikerjakan anaknya dengan baik. “Belum lagi setelah selesai, mau mengirimkan tugas juga sulit,” ungkapnya.

Guru Kelas I, SD N Widoro, Sendangsari, Pengasih, Sugiyem menyatakan, sebagai guru kelas 1 yang mengampu siswa lulusan TK menjadi tantangan berat di masa pandemi. Sebab, pada umumnya anak-anak butuh pendampingan secara langsung dan intens, sebab tiak sedikit yang belum mampu mengeja huruf dan paham apa itu sekolah. “Hari pertama masuk sekolah saya bingung, saya bahkan terpaksa meminta anak-anak yang datang untuk melepas masker sekedar untuk melihat wajahnya, karena saya biasanya mengenali anak-anak saya dengan gestur,” keluhnya.

Tugas berikutnya yang diberikan kepada siswa yakni, membuat rekaman video dengan konten mengenalkan diri sendiri juga kedua orang tuanya. “Ini belum membahas soal sinyal yang ndlap-dlup (tidak ada signal), sekali trouble jaringan tidak bisa apa-apa,” ujarnya. (tom/pra)

Jogja Raya