RADAR JOGJA – Pengusaha penambangan pasir di lereng Gunung Merapi diminta turut bertanggung jawab dengan rusaknya jalur evakuasi. Kerusakan jalur dikhawatirkan menghambat proses evakuasi warga jika sewaktu-waktu Gunung Merapi erupsi.

“Kami akan mengupayakan agar jalur evakuasi itu segera diberikan perbaikan termasuk dengan mendorong kerjasama pemerintah, masyarakat dan pengembang. Terlebih melihat situasi Merapi saat ini, sehingga kemudian layak dan harus benar-benar bisa dilalui,” ujar Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sleman Ani Martanti, di sela inspeksi Senin (13/7).

Inspeksi lereng Gunung Merapi oleh Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sleman Ani Martanti, ( IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA )

Para legislator mendorong pengusaha tambang untuk ikut bertanggung jawab terhadap rusaknya jalur evakuasi bagi warga lereng Gunung Merapi. Hal itu, menyusul mulai masifnya aktivitas gunung teraktif di dunia itu akhir-akhir ini.

Ani menyebut, dari hasil pengecekan tersebut pihaknya menemukan jalur evakuasi memang dalam kondisi rusak parah, yakni di jalur Srunen-Singlar. “Kondisi ini akan menyulitkan warga untuk melakukan evakuasi atau pengungsian ketika bencana terjadi,” ujarnya.

Terkait dengan upaya tersebut, Ani juga berharap agar ada sinergitas antara pemerintah, penambang serta masyarakat sekitar untuk bisa saling bisa bekerjasama melakukan perbaikan jalur Singlar yang merupakan jalur untuk tiga dusun yakni Kalitengah, Singlar serta Srunen. Panjang jalur yang rusak sendiri terhitung mencapai panjang dua kilometer.

Terkait dengan kesiapan mitigasi warga lereng Gunung Merapi sendiri, Ani menyatakan, warga sudah paham tentang bagaimana menyelamatkan barang berharga berupa dokumen penting dengan tas siaga. Isi tas siaga sendiri berupa surat-surat penting seperti sertifikat tanah, kartu keluarga serta dokumen penting lainnya.

Ketua RT 03 Dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan Sarmiyati menyatakan bahwa tas siaga memang berperan cukup penting apabila bencana terjadi. Sebab, dari pengelaman erupsi 2010 lalu sebagian besar tidak sempat menyelamatkan surat-surat berharganya karena kurangnya persiapan. “Dengan tas siaga ini apabila besok ada bencana kami tinggal bawa dan surat-surat penting terselamatkan, pengalaman bencana dulu banyak dokumen yang tidak terselamatkan dan kami susah untuk mengurusnya,” ujar Sarmiyati.

GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

Kepala Bidang Logistik dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman Makwan menyampaikan, terkait upaya perbaikan jalan pihaknya sudah menyiapkan mekanisme. Salah satunya dengan meminta aktivitas penambangan dihentikan sementara ketika dilakukan perbaikan.

Makwan juga telah menyiapkan pola evakuasi sesuai protokol kesehatan ketika bencana terjadi. Penerapan jaga jarak serta penggunaan masker menjadi hal wajib yang dilakukan ketika bencana. Disinggung terkait kapasitas, dia menyatakan bahwa barak pengungsian di wilayah lereng Merapi bisa menampung hingga 300 orang. “Apabila dengan protokol kesehatan kemudian mengurangi kapasitas barak pengungsian. Warga sudah memiliki opsi mitigasi berbasis keluarga,” ujar Makwan. (inu/pra)

Jogja Raya