RADAR JOGJA – Legenda hidup Gudeg Jogjakarta Mbok Lindu telah berpulang. Pemilik nama asli Biyem Setyo Utama ini meninggal dunia Minggu sore (12/7). Jenazah nenek berusia 100 tahun ini dimakamkan hari ini (13/7) di Makam Klebengan, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Anak ketiga Mbok Lindu Ratiyah, menuturkan ibunya sakit sejak beberapa tahun belakangan. Bulan lalu terjatuh saat akan masuk rumah. Sempat dirawat di rumah sakit, Mbok Lindu memilih untuk dirawat di rumahnya yang sederhana.

“Simbok itu gerah sepuh. Tapi memang sempat jatuh saat mau masuk ke dalam (rumah). Sempat masuk rumah sakit. Jatuhnya itu 6 Juni kemarin,” cerita Ratiyah ditemui di kediaman Mbok Lindu, Klebengan Caturtunggal Depok Sleman, Minggu malam (12/7).

Sosok Mbok Lindu sudah tak asing lagi di jagad kuliner. Walau telah berumur sepuh, namun semangatnya tetap tinggi. Bahkan sebelum memilih istirahat, nenek yang tahun ini berusia 100 tahun sempat berjualan di Sosrowijayan. Kala itu Mbok Lindu berjualan di cakruk pos ronda.

Semenjak tiga tahun lalu, Mbok Lindu terpaksa beristirahat. Kala itu usia Mbok Lindu sekitar 96 hingga 97 tahun. Faktor usialah yang membuat tenaganya tak lagi kuat melayani para pecinta gudegnya. 

“Simbok usianya 100 tahun tapi tenaga dan semangatnya luar biasa. Tapi sudah tidak jualan langsung sejak tiga tahun, cuma di rumah saja. Saya yang gantikan di Sosrowijayan,” katanya.

Berada di rumah bukan berarti istirahat sepenuhnya. Tubuh rentanya masih memiliki tenaga untuk memasak. Hal ini turut diceritakan oleh Ratiyah. Kesehariannya, Mbok Lindu masih membantu aktivitas. Mulai dari mengupas telur hingga memotong cabai.

Semangat ini yang terus ditularkan kepada ketiga anaknya. Agar rajin bekerja, semangat dan pantang mundur. Selain itu juga tak menghiraukan perkataan orang lain. Juga tidak mengganggu kehidupan orang.

Asal mula nama Lindu juga lahir dari kesederhanaan Mbok Lindu. Saat masih remaja, Lindu muda kerap diganggu oleh saudara dan tetangganya. Bukannya membalas atau menyimpan dendam, Lindu memilih untuk melupakan. Pesan-pesan inilah yang selalu dia sampaikan kepada ketiga anaknya.

“Lalu muncul istilah wong kok lunda lundu karena tidak membalas. Terus jadilah parapannya Lindu. Simbok itu semangat berjuangnya tinggi. Tidak rewel lalu berpesan jangan iri dengan orang,” kenangnya.

Ratiyah turut mengisahkan awal mula ibunya berjualan gudeg. Berdasarkan cerita Mbok Lindu, saat usia 15 berjualan keliling menggunakan tenggok. Berjalan kaki dari rumahnya di Klebengan hingga kawasan Sosrowijayan Kota Jogja.

Tak sendiri, Lindu remaja berjalan kaki bersama teman-teman sebayanya. Maklum saja, kawasan Klebengan dahulu memang terkenal sebagai sentra gudeg. Pagi-pagi buta telah menyusuri jalan sepi tanpa alas kaki. Menyusuri jalan Solo yang kini menjadi jalan Urip Sumoharjo hingga Malioboro dan berakhir di Sosrowijayan.

“Simbok cerita berangkat jam 4 pagi setiap harinya. Belum ada kendaraan seperti sekarang, jalannya masih sepi. Pakai obor untuk penerangan bareng teman-temannya. Lalu nanti mencar,” katanya.

Semenjak sakit, beberapa pelanggan setia kerap menanyakan kabar perempuan kelahiran 1920 tersebut. Bahkan belum lama ada beberapa pelanggan yang sempat menjenguk ke rumah langsung.

“Pelanggan tanya, simbok kemana. Ada yang ke sini (Klebengan) dari Jakarta. Belum lama ini juga ada perwakilan dari Swiss datang tilik ke rumah,” ujarnya.

Kesederhanaan Mbok Lindu sempat menarik perhatian chef taraf internasional William Wongso. Tak hanya berkunjung, pria tersebut juga sempat mengabadikan Mbok Lindu dalam sebuah film dokumenter. Mengulas konsistensi sosok Mbok Lindu dalam menggeluti kuliner gudeg.

Kesederhanaan Mbok Lindu bukan sekadar ucapan. Salah satu contoh nyata adalah kediamannya. Walau kulinernya sangat laris, Mbok Lindu tak pernah mau memewahkan rumahnya. Sebuah limasan kuno bahkan nyaris reyot menjadi tempatnya beristirahat selama ini.

“Pernah kami minta pindah ke rumah depan tapi simbok enggak mau. Rumahnya masih asli, usianya sudah puluhan tahun. Ya seperti ini, simbok enggak ingin rumah direnovasi,” katanya.

Anak kedua Mbok Lindu, Lahono, sempat menemani waktu-waktu terakhir ibunya. Beragam kisah muda hingga perjalanan diceritakan ulang oleh Mbok Lindu. Inilah yang dia kagumi dari ibunya. Walau telah sepuh namun ingatannya masih sangat kuat.

“Tadi (13/7) juga masih merangkul saya. Simbah sempat pesan minta maaf kalau ada salah, sepertinya sudah terasa mau pulang (meninggal dunia). Pesan kepada anak-anaknya harus kerja, rukun antar saudara dan keluarga,” ceritanya.

Sosok Mbok Lindu memang paling sukses dalam menggeluti dunia kuliner. Sejatinya tak hanya perempuan sepuh ini yang berjualan gudeg. Terhitung ada 20 pedagang gudeg yang berasal dari keluarga Mbok Lindu. Mulai dari anak, cucu, hingga anak dari saudara Mbok Lindu.

Sosok Mbok Lindu sendiri adalah generasi ketiga penjual gudeg. Diawali dari nenek dari Mbok Lindu, lalu berlanjut kepada ibu dari Mbok Lindu. Ketiga anaknya juga menggeluti kuliner gudeg. Hingga kini tongkat estafet telah sampai ke cucunya.

“Sekarang sudah generasi kelima. Simbok itu punya tujuh cucu dan enam cicit. Hampir semua jualan gudeg, jadi memang trah gudeg. Simbol sudah jualan sejak bayarannya masih itungan sak ndil, sak sen, peni sampai sekarang rupiah,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya