RADAR JOGJA – Suasana sedih terasa begitu memasuki kediaman Biyem Setyo Utama yang akrab disapa Mbok Lindu di Klebengan Caturtunggal, Depok, Sleman. Beberapa orang terlihat sibuk menata kursi di halaman rumah. Ketiga anaknya juga tak henti-hentinya menyapa para pelayat yang datang.

Ada yang unik dari pemakaman sang legenda gudeg Jogjakarta ini. Hidangan yang tersaji tak sekadar makanan ringan. Tapi gudeg yang biasa disajikan Mbok Lindu kepada para pelanggannya.

“Ayo mas, monggo makan gudeg dulu. Kenang-kenangan dari simbok Niki,” kata anak ketiga Mbok Lindu, Ratiyah, ditemui di kediaman Mbok Lindu, Minggu malam (12/7).

Sajian gudeg Mbok Lindu bagi para pelayat sangat lengkap. Mulai dari gudeg, telur, nasi hingga sambel krecek. Masing-masing tersaji dalam wadah panci berukuran besar. 

Para pelayat yang datang, satu persatu mencicipi gudeg khas itu. Mereka adalah para sanak saudara, tetangga hingga pelanggan Mbok Lindu. Masing-masing diizinkan mengambil gudeg sesuai selera.

Gudeg ini awalnya untuk berjualan di Sosrowijayan. Semuanya masih hangat dan siap dijual untuk Senin pagi (13/7). Sayangnya takdir berkata lain. Sang empunya Gudeg, Mbok Lindu, harus berpulang Minggu sore (12/7) tepatnya pukul 17.52.

“Jadi setiap hari memang memasak untuk jualan paginya. Daripada tidak termakan lebih baik disajikan untuk tamu (pelayat) yang datang. Sebagai kenang-kenangan dari simbok juga,” katanya.

Tak hanya di sisi luar, di bagian dapur juga masih tersaji beberapa panci. Mulai dari gudeg, sambal krecek, telur hingga ayam. Bahkan bara tungku api masih dibiarkan menyala. Semua itu untuk menjaga agar gudeg tetap panas di kemudian harinya.

Sepeninggalan Mbok Lindu, Ratiyah didapuk sebagai pengganti. Perempuan kelahiran 1965 ini memang paling dekat dengan Mbok Lindu. Kesehariannya selalu tidur satu rumah. Selain itu juga membantu memasak sejak kecil. Bahkan tiga tahun terakhir, sosok inilah yang menggantikan berjualan di Sosrowijayan.

“Akan saya teruskan berjualan (gudeg) simbok di Sosrowijayan. Pastinya sedih tapi takdir berkata seperti ini. Simbok sampun sepuh dan sekarang sudah tenang,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya