RADAR JOGJA – Perjuangan warga Kampung Mrican Giwangan Umbulharjo Kota Jogja dalam mengubah wajah Bendung Lepen tidaklah mudah. Dahulu sebelum terkenal sebagai bendungan ikan air tawar, lokasi ini adalah kampung kumuh. Banyak sampah berserakan di sekitar aliran selokan tersebut.

Permasalahan tak hanya di situ . Ada kandang babi di dalam komplek itu. Alhasil bau kotoran babi selalu merebak setiap harinya. Tak hanya pemandangan, kesehatan warga juga sempat terganggu dengan adanya polusi tersebut.

“Dulu itu beda sekali mas tempatnya. Banyak orang buang sampah bahkan sampai sampah medis. Lalu disini yang sekarang jadi pendopo dulu itu kandang babi. Sangat tidak nyaman,” jelas Perwakilan karang taruna Kampung Mrican Andhy Noor Wijanarko, 26, ditemui di Bendung Lepen, Jumat sore (10/7).

Perlahan tapi pasti, wajah kawasan ini mulai berubah. Diawali dengan adanya program ruang terbuka hijau publik. Penataan diawali dengan pembersihan lokasi pembuangan sampah dan kandang babi. Lalu berganti dengan ruang lapang dengan pepohonan.

Saat semuanya telah tertata, sempat ada jeda waktu. Sehingga pemanfaatan ruang terbuka hijau sempat tak optimal. Hingga akhirnya warga sepakat untuk mengelola saluran irigasi. Tentunya dibersihkan terlebih dahulu dari endapan lumpur dan sampah.

“Sebelum kami bersihkan, alirannya hanya sebetis kami. Lalu setelah dibersihkan bisa sampai satu meter. Banyak sampah dan lumpur yang mengendap lama,” katanya.

Proses penataan ternyata cukup lama. Diawali dengan penyusunan perencanaan pada 2016 dan dieksekusi 2019. Jeda waktu ini digunakan untuk mengedukasi warga Kampung Mrican. Tak hanya terkait kebersihan lingkungan tapi juga kesadaran untuk tidak buang sampah sembarangan.

Setelah semuanya tertata, barulah kawasan Bendung Lepen mulai berhias. Beragam jenis ikan mulai dimasukan kedalam aliran irigasi. Sebut saja ikan nila, tombro bahkan ikan koi.

“Warga itu kunci paling penting sehingga mereka yang kami dekati dulu. Adanya bendung lepen ini juga sedikit mengubah karakter warga. Mulai peduli dan mau berpikir jangka panjang,” ujarnya.

Kini ribuan ikan telah mengisi aliran irigasi tersebut. Ukuran ikan rata-rata lebih besar dari tangan orang dewasa. Ada pula beberapa ikan sungai yang mulai masuk saluran irigasi. Seperti ikan lele, ikan wader bahkan ikan patin.

Program ini ternyata berhasil. Awalnya ikan hanya diperuntukan bagi konsumsi warga. Untuk sekali panen bisa mendapatkan 8 kuintal ikan segar. Seluruhnya mampu memenuhi kebutuhan pangan warga Kampung Mrican.

“Sampai saat ini sudah empat kali panen, dan hasilnya untuk warga. Ada yang kami jual dan uang buat beli bibit ikan lagi,” kata Ketua Karang Taruna Kampung Mrican Suradianto, 32.

Tak disangka kabar keindahan penataan bendung lepen ternyata sampai ke warga luar kampung. Berawal dari unggahan foto di sosial media, lokasi ini mulai ramai dikunjungi warga. Dampak lain, banyak warga sekitar yang membuka usaha kuliner.

Di satu sisi, Suradianto dan Andhy belum percaya diri menyebut lokasi ini sebagai objek wisata. Mereka sepakat bahwa lokasi ini adalah ruang terbuka hijau kampung Mrican. Awalnya rumah bercengkrama warga sekitar namun juga diminati warga luar Kampung Mrican.

“Tidak ada restribusi, memang banyak masukan, tetapi kami belum mau. Tapi Alhamdulillah warga mulai memanfaatkan untuk berjualan kuliner. Ada dampak ke perekonomian warga,” katanya.

Radar Jogja melihat sendiri antusias warga menikmati wahana di bendung lepen. Mayoritas adalah keluarga yang datang bersama anaknya. Masing-masing duduk di bibir saluran irigasi. Lalu memberi makan ikan dengan pelet.
Salah satunya adalah Jatmiko. Pria berusia 36 tahun ini datang bersama istri dan kedua anaknya. Sang anak terlihat senang saat menaburkan pelet. Pakan ikan ini dibeli seharga Rp 2000 dari warga sekitar.

“Dulunya sepedaan lewat sini, kok bagus. Akhirnya ajak anak dan istri. Anak saya suka sekali lihat ikan. Ya selain plesir itung-itung edukasi juga,” kesannya.(dwi/tif)

Jogja Raya