RADAR JOGJA – Mewujudkan Jogja sebagai kota inklusi, Pemkot Jogja memberikan pelatihan budi daya tanaman sayuran melalui program pemberdayaan. Ini untuk menuju ketahanan pangan dalam masa pandemi Covid-19. Sasaran masyarakat adalah perempuan, warga lanjut usia, hingga kelompok difabel.

Sumiyati merupakan orang disabilitas dengan psikososial (ODDP) Skizofrenia, yaitu gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Warga Bausasran, Danurejan itu termasuk yang mendapat pelatihan menanam sayur. Dia sudah merasakan keberhasilannya. “Senanglah, ternyata mudah nanam sayur. Kalau panen kan bisa metik untuk sendiri dan bisa dijual juga,” katanya disela launching program ketahanan pangan perempuan disabilitas, lansia, dan pendamping di Danurejan kemarin (10/7).

Perempuan 34 tahun itu sudah selama tujuh tahun rutin mengkonsumsi obat untuk menghilangkan rasa ketakutan atau halusinasi berlebihan yang sering muncul. Rupanya dengan memanam sayuran selain bisa mandiri ketahanan pangan, menghasilkan ekonomi karena hasil panen bisa dijual. Ternyata dinilai bisa menambah kesibukan aktifitas dan bersosialisasi. “Iya bisa nylamur pikiran biar tidak terlalu banyak ngalamun karena bahaya,” ucapnya yang menyebut menanam sawi, kangkung, cabai, dan taoge.

Baru sebulan mulai menanam sayur sudah tiga kali panen untuk komoditas sayur tauge. Satu kali panen bisa mencapai 0,5 sampai satu kilogram taoge. Sebelumnya hasil panen tersebut hanya dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar. “Sebelumnya nggak tahu mau dijual kemana. Sekarang udah tahu dijual ke e warong,” imbuhnya.

Kader Pendamping Kesehatan Jiwa, Pusat Rehabilitasi Yakkum, Endang Wahyu Widayati mengatakan, di kelurahan Bausasran ada 17 penerima manfaat program pemberdayaan tersebut. Ada 10 perempuan disabilitas, lima lansia, dan dua kader pendamping. “Kebetulan kami kader kesehatan jiwa. Jadi kami utamakan yang ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) dulu,” katanya.

Sementara, 10 ODGJ yang didampingi antara lain ODDP, rungu wicara, dan layuh akut. Mereka dari 10 orang tersebut diajak menanam sayur di rumah masing-masing baik dengan konsep polybag, vertical garden di dinding dan berbagai macam sesuai kondisi. Basisnya ada yang sendiri maupun dengan keluarga. “Karena kalau layuh akut kan tidak bisa berjalan. Jadi butuh pendampingan penuh,” tambahnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Jogja, Agus Sudrajat mengatakan, program ini tercetus bermula dari adanya krisis kesehatan, krisis sosial hingga berdampak sosial dan ekonomi yang semakin menurun di masyarakat pada masa pandemi Covid-19. “Mereka (perempuan disabilitas dan lansia) merupakan kelompok yang paling rentan terhadap pandemi ini. Sehingga perlu kami dorong supaya berdaya untuk memenuhi kebutuhan pokok dasarnya,” katanya.

Birokrat dengan latar belakang dokter itu menyebut, ini merupakan salah satu implementasi dari progran pemkot Jogja yaitu gandeng gendong yang berkolaborasi antara 5K. Di antaranya kota sebagai pemerintahnya, korporasi, kampung, kampus, dan komunitas. “Semua elemen ini mengambil peran masing-masing untuk berguna bermanfaat dan saling lung tinulung. Serta bergandengan untuk menggendong sedulur-dulur yang kurang beruntung,” ujarnya.

Adapun bentuk sinergi dengan e warong kube jasa yaitu nantinya budi daya sayuran seperti sawi, cabai, kangkung, dan tauge akan diterima atau dibeli oleh e warong. Dan menjadi bagian dari komoditas pada saat penyaluran sembako dengan empat komponen utama yakni karbohidrat, sayur, buah, dan protein. “Kita nanti akan kembangkan tidak hanya budi daya sayur. Misalnya pembuatan telur asin dan sektor lain,” terangnya.

Dia berharap dengan langkah awal ini merupakan tekad kasungguhan bahwa perempuan disabilitas yang termasuk didalamnya adalah ODGJ tersebut dan lansia tidak menjadi beban. Melainkan justru berdaya dan mandiri dalam ketahanan pangan dasarnya. “Program semacam ini semoga bisa direplikasi dan diterapkan di kelurahan lain,” harapnya.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan program pemberdayaan tersebut adalah penyelesaian persoalan sosial dalam menghadapi masa pandemi Covid-19. Terutama terkait disabilitas terlebih ODGJ. “Di kota memang banyak orang yang masuk dalam ODGJ sekitar 2.500-an itu masuk difabel,” katanya. (wia/pra)

Jogja Raya