RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan ada pengembungan tubuh Gunung Merapi setiap harinya. Berarti ada pertumbuhan kubah lava baru dan magma semakin menuju ke atas. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong pemerintah setempat untuk menyiapkan mitigasi bencana bagi masyarakat sekitar gunung api teraktif di dunia ini.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menyebutkan, sejak erupsi 21 Juni 2020 lalu ada pemendekan dari pengukuran EDM (electronic distance measurement) atau penggembungan tubuh Gunung Merapi sebesar 0,5 sentimeter setiap harinya.  Hal itu dapat memungkinkan adanya aktivitas eksplosif atau letusan kategori rendah dengan material yang dikeluarkan berupa gas.

Penggembungan tubuh gunung juga memungkinkan tumbuhnya kubah lava baru seperti yang pernah terjadi Agustus 2018. “Artinya magma semakin ke atas, sehingga masyarakat harus tetap waspada,”  ujar Hanik usai menggelar rapat koordinasi di kantor Bupati Sleman, Kamis  (9/7).

Hanik menyatakan, meskipun ada aktivitas penggembungan, dia meminta agar masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena kemungkinan letusannya akan lebih kecil dari tahun 2010.  “Saat 2010 lalu penggembungannya terhitung 10-20 sentimeter per hari,” terangnya.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan ada pengembungan tubuh Gunung Merapi setiap harinya. Berarti ada pertumbuhan kubah lava baru dan magma semakin menuju ke atas. ( Elang Kharisma Dewangga/radar jogja
)

Adanya laporan dari BPPTKG terkait aktivitas Gunung Merapi, Deputi Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan mendorong pemerintah setempat menyiapkan langkah mitigasi guna menimalisasi dampak dari bencana. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah jalur evakuasi serta barak pengungsian yang sesuai dengan protokol kesehatan.

Lilik juga meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana selain Covid-19 yakni letusan gunung berapi. Hal itu juga dibuktikan dengan aktivitas vulkanik Merapi yang cukup masif beberapa hari ini. Kemarin pihaknya juga melakukan pengecekan jalur evakuasi dan kesiapan mitigasi di dua desa lereng gunung, yakni Desa Glagaharjo dan Desa Kepuharjo di Kecamatan Cangkringan.

“Kita memang sedang menghadapi Covid-19, tapi kita jangan sampai lupa ada potensi bencana lain. Di sini kami ingin semuanya siap sebelum bencana terjadi,”  tandas Lilik.

Sementara Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan, pihaknya sudah membuat rencana kontingensi mitigasi bencana gunung berapi di tengah pandemi Covid-19. Pihaknya tengah merancang skema untuk evakuasi masyarakat lereng Merapi dengan aturan jaga jarak dan sebagainya.

“Untuk saat ini sedang kami persiapkan kontingensinya terkait jaga jarak ketika ada evakuasi masyarakat dan semacamnya. Namun untuk barak pengungsian, untuk saat ini terbilang sangat memadai dan juga cukup banyak,” terang bupati.

Di sela pemantauan BNPB di kawasan pemukiman lereng Gunung Merapi Kamis (9/7), warga Desa Glagaharjo meminta adanya perbaikan jalur evakuasi. Sebab jalur evakuasi yang menghubungkan lima dusun di desa tersebut dalam kondisi rusak.

RUSAK PARAH: Lokasi jalan rusak di Jalur BronggangKlangon, Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman,
(9/7)( IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA )

Pantauan Radar Jogja di lokasi jalan rusak, kondisi jalur evakuasi terbilang cukup sulit dilalui kendaraan dengan spesifikasi standar. Kontur jalan juga bergelombang dan banyak didominasi batu serta pasir tanpa aspal.

Dukuh Kalitengah Lor Suwondo menyatakan, ruas jalan yang dikenal warga sekitar dengan nama Jalan Bronggang-Klangon itu merupakan jalur evakuasi untuk ribuan warga di lima dusun yang ada di Desa Glagaharjo. Yakni Dusun Glagahmalang, Srunen, Singlar, Kalitengah Lor, dan Kalitengah Kidul.

Suwondo menyatakan, rusaknya jalan Bronggang-Klangon disebabkan karena sering menjadi akses truk pengangkut pasir. Warga juga sudah berupaya melakukan perbaikan secara swadaya dengan menimbun jalan memakai batu dan pasir untuk menambal lubang yang cukup dalam.

“Lantaran akses jalur ini rusak parah, jalur evakuasi hanya ada di Jalan Kikis, namun di situ cukup kecil. Sehingga kami berharap jalur ini juga bisa diperbaiki,” pintanya.

Dukuh Srunen Sukatmin menyatakan, panjang jalan yang terbilang cukup rusak mencapai 2 kilometer. Sejak 2018 pihaknya sudah mengajukan perbaikan jalur itu agar ketika ada bencana erupsi Merapi, ruas jalan itu bisa juga digunakan untuk evakuasi.

Namun hingga 2020, perbaikan jalan belum terealisasi dan justru ditunda karena adanya pandemi Covid-19. “Kalau ini diperbaiki tentu tidak hanya ada satu jalur (Jalan Kikis) evakuasi. Desa ini  akan memiliki jalan lain untuk memudahkan evakuasi jika benar-benar Merapi aktif,” terang Sukatmin.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan tak menampik ada beberapa jalur evakuasi yang rusak akibat aktivitas truk tambang. Kendati demikian, pihaknya akan mengupayakan perbaikan serta menghentikan aktivitas tambang apabila ada peningkatan status Merapi. “Nantinya jalur evakuasi segera diperbaiki. Minimal bisa dilintasi masyarakat dengan aman,” ujarnya. (inu/laz)

Jogja Raya