RADAR JOGJA – Rukun Kampung (RK) Ponggalan, Giwangan, Kota Jogja, terpilih sebagai model kampung tangguh nusantara mewakili DIJ. Kampung ini dinilai tangguh dalam beberapa hal baik bidang kesehatan, keamanan, sosial ekonomi, pendidikan, dan informasi.

Ketua LPMK Kelurahan Giwangan Yanto mengatakan, kampung tangguh nusantara RK Ponggalan terdiri atas Kampung Sanggrahan, Mrican, dan Ponggalan. Masing-masing kampung memiliki transisi atau perubahan mindset pembangunan yang lebih baik dari sebelumnya. “Ini udah kami ciptakan jauh-jauh hari dari tahun-tahun sebelumnya. Semua kami lakukan karena keprihatinan,” katanya kepada Radar Jogja Kamis(9/7).

Yanto menjelaskan, semua konsep terbangun berawal secara mendadak dan swadaya masyarakat. Kemudian program masyarakat terintegrasi berkat adanya kerja sama dari lima sektor yakni komunitas masyarakat peduli lingkungan, perguruan tinggi, pengusaha, pemerintah, dan media. “Semua konsep itu mendadak hingga seperti sekarang,”  ujarnya.

Sebelumnya, Kampung Sanggrahan terkenal dengan lokalisasi dan sekarang dijadikan sebagai kampung hijau dengan konsep lingkungan dan konservasi air untuk peningkatan kualitas udara. Serta ketahanan pangan  dengan tanaman kelengkengnya.

Kampung Mrican dulu merupakan kandang babi dan tempat pembuangan limbah medis. Kini menjadi lokasi budidaya ikan dan kampung taqwa. Sedangkan Kampung Ponggalan dulunya kumuh menjadi kampung wisata dengan dermaga cinta dan kapal di Sungai Gajah Wong. “Dengan adanya seperti itu masyarakat bisa teberdayakan semua. Tidak saling dirugikan, bisa saling menolong dan konsep kita sedekah,” jelasnya.

KAMPUNG PERCONTOHAN: Warga memberi makan ikan nila yang dibudidayakan warga di saluran irigasi Kampung Ponggalan, Giwangan, Umbulharjo, Kota Jogja, (9/7. (WINDA ATIKA IRA PUSPITA /RADAR JOGJA )

Selain itu, penataan Sungai Gajah Wong juga menjadi role model penataan sungai di Indonesia. Karena dengan 400 rumah mampu terpindahkan sendiri oleh masyarakat dengan konsep mundur madep kali (M2K) dari tahun 2016-2018. “Akhirnya dari itu jadi perhatian pemerintah. Karena sing munggahke masyarakatnya sendiri,” terangnya.

Penataan fisik pun mulai bisa berjalan hingga saat ini seperti membuat jalan inspeksi yang cukup lebar, sehingga bisa dilalui kendaraan gawat darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran. Dalam kontek mitigasi bencana sudah dipertimbangkan.

Bencana banjir ada batu dan ruang untuk bergerak. “Sekarang yang kita perlu perbaruhi adalah tangguh IT yang sedang digalakkan. Supaya bisa diakses untuk masyarakat, terlebih para pelajar dan mahasiswa,”  tambahnya.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) mengatakan, sebuah kekompakan masyarakat bersama pemerintah, TNI, Polri menjadi kunci mengubah wilayah Kampung Ponggalan menjadi lebih tertata. Sehingga bisa bernilai secara lingkungan, kesehatan, budaya, dan secara ekonomi. “Semangat seperti harus terus dijaga. Karena dengan partisipasi masyarakat yang tinggi dapat menyukseskas beberapa program,”  pesannya.

Sementara Wakapolda DIJ Brigjen (Pol) R Slamet Santoso mengatakan kampung tangguh nusantara di Jogja dipusatkan di RK Ponggalan. Ketangguhan kampung terbagi menjadi berbagai aspek yaitu dari bidang kesehatan, keamanan, sosial ekonomi, pendidikan, dan informasi. “Kalau kampungnya sudah tangguh, otomatis nanti kecamatan akan tangguh. Kabupaten kota akan tangguh. Kalau semua sudah tangguh, maka secara provinsi juga akan tangguh,” katanya.

Diharapkan dengan terpilihkan kampung tangguh nusantara di Kota Jogja ini bisa berkombinasi antara kota dan beberapa kabupaten lain di DIJ. “Harapan kami ketika sudah kombinasi dengan Bantul, Sleman, Kulonprogo, dan Gunungkidul, akan menjadi role model untuk nasional,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Raya