RADAR JOGJA – Pemkot Jogja mulai meninggalkan rapid test, dengan menggalakan swab test. Sasarannya para tenaga kesehatan dan non kesehatan di Puskesmas, sejak Senin (6/7).

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Tri Mardaya mengatakan, sudah sekitar 500-an pekerja di puskesmas yang sudah dilakukan swab test. Ini sekitar separonya dari sasaran swab test karena harus bergantian agar tidak mengganggu operasional puskesmas. “Kebijakan DIJ sementara untuk di puskesmas dulu. Karena mereka yang banyak kontak dengan masyarakat,” katanya disela menghadiri pembukaan Taman Sari kemarin (8/7).

Tri menjelaskan target swab tes di 18 puskesmas untuk semua karyawan hingga juru parkir tanpa terkecuali. Ini karena orang pertama yang berpotensi terpapar adalah orang yang bekerja di puskesmas. “Hampir semua itu potensi pertama, karena sebelum pasien dibawa ke rumah sakit ke puskesmas dulu,” ujarnya.

Kenapa kali ini langsung melakukan swab test?. “Kalau rapid test harus nunggu, reaktif atau tidak. Kalau reaktif di-swab lagi. Kalau ini, langsung akan bisa melihat statusnya. Kalau positif akan kita putus mata rantaianya dengan men-tracing,” jelasnya.

Dia menyebut potensi tenaga medis dan non medis yang bisa terpapar ada di puskesmas sekitar 1.000 lebih. Tapi selama ini tenaga medis cukup bagus bisa menekan paparan atau realitf kecil. Hal tersebut karena alat pelindung diri yang sudah cukup memadai ada di setiap puskesmas. “Tapi ada kasus dokter atau tenaga medis yang terpapar sudah positif tapi enggak banyak. Ada tiga kalau nggak salah, yang dua sudah sembuh,” bebernya.

Menurut dia, dimungkinan terpapar ini bisa bermacam-macam. Baik karena cara memakai ataupun melepas APD yang salah atau kurang tepat. “Kita perlindungan APD kan hanya 99 persen. Satu persennya punya potensi,” jelasnya.

Bagaimana jika ada hasil tes yang positif? Mekanismenya, jika mereka sudah memiliki riwayat penyakit penyerta maka akan masuk ke rumah sakit. “Karena kalau ada penyakit penyerta berpotensi lebih parah,” ucapnya.

Pun jika tidak ada penyakit penyerta, sesuai kebijakan pemerintah pusat bahwa orang terkonfirmasi positif tanpa gejala maka isolasi mandiri dengan home care. Pun Dinkes juga tidak akan memberlakukan kebijakan serta merta ketika di puskesmas ada temuan kasus positif. Dengan menutup pelayanan puskesmas. “Kalau ditemukan kasus, nanti kami tracing. Semoga tidak ada semuanya,” harapnya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menambahkan, selanjutnya swab test akan menyasar kepada para petugas lapangan. Seperti Jogoboro, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan seterusnya. “Masyarakat nanti, ini kami fokuskan dulu untuk petugas-petugas yang ada di lapangan,” jelas HP.

Upaya itu dilakukan untuk melihat dan meyakinkan kondisi mereka. Karena mereka yang setiap hari kontak langsung dengan masyatakat dan menjalankan protokol Covid-19. ” Jadi mereka yang kami prioritaskan dulu setelah tenaga medis,” ungkap Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja itu. (cr1/wia/pra)

Jogja Raya