RADAR JOGJA – Kampung Ponggalan di Kelurahan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Jogja terpilih sebagai percontohan Kampung Tangguh Nusantara di DIJ, Kamis (9/7).

Kampung Ponggalan berada tepat di tepi Sungai Gajah Wong. Pasca dilakukan penataan lingkungan, kawasan yang sebelumnya kumuh diubah menjadi tempat wisata baru. Atraksi wisata unggulannya adalah susur sungai dengan perahu.

Kampung ini memiliki berbagai bidang ketangguhan yakni kesehatan, sosial ekonomi, keamanan dan ketertiban masyarakat, pendidikan, pariwisata, hingga informasi.

Di bidang kesehatan, terdapat posko kesehatan kampung yang dilengkapi alat pelindung diri (APD), melengkapi tiap rumah dengan tempat cuci tangan, melakukan penyemprotan disinfektan dan warganya sudah mengikuti pelatihan pemulasaran jenazah COVID-19.

Selain itu, warga juga membudidayakan ikan nila di saluran irigasi. Rutin dipanen tiap empat bulan sekali untuk memenuhi kebutuhan warga. Selain itu ada budidaya kelengkeng, sayuran, serta tanaman obat keluarga.

Menurut Wakapolda DIJ Brigjen (pol) R Slamet Santoso, jika suatu kampung sudah tangguh, maka kelurahan dan kecamatan akan ikut menjadi tangguh. Begitus seterusnya berlanjut ke wilayah administrasi kota dan kabupaten yang tangguh, provinsi yang tangguh hingga negara yang tangguh.

“Kampung tangguh harus tangguh dalam beberapa bidang, seperti kesehatan, keamanan, ekonomi, pendidikan dan informasi,” katanya di sela pencanangan Kampung Tangguh Nusantara (KTN), Kamis (9/7).

Sementara itu Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengapresiasi kekompakan masyarakat di Kampung Ponggalan untuk selalu bekerja keras. Itulah yang menjadi kunci dalam mengubah wilayah yang sebelumnya kumuh menjadi lebih tertata.

“Berkat kerja keras dan semangat semua warga, kawasan ini menjadi semakin tertata. Keasrian lingkungan pun terjaga. Semangat ini harus terus dijaga sehingga penataan bisa dilakukan menyeluruh,” katanya.

Ketua Forum Silaturahmi Daerah Aliran Sungai (Forsidas) Gajah Wong Purbudi Wahyuni menjelaskan, upaya penataan telah dilakukan sejak 2010 dnegan mengajak seluruh masyarakat memiliki kesadaran menata lingkungan sungai.

“Pada 2010, Gajah Wong menjadi sungai paling kotor di DIJ, bahkan pernah dilanda banjir bandang akibat lingkungan yang rusak karena pembangunan tidak terkendali. Kini, sudah mulai tertata dan kandungan bakteri e-coli pun turun 50 persen,” jepasnya.

Purbudu mengaku proses edukasi dan sosialisasi ke masyarakat tidak mudah. Tetapi, masyarakat mulai bisa memahami dan penataan bisa dijalankan dengan baik mulai 2015 hingga saat ini.

“Kemudian ada program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Penataan fisik pun mulai bisa berjalan hingga saat ini yaitu membuat jalan inspeksi yang cukup lebar sehingga bisa dilalui kendaraan gawat darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran,” lanjutnya.

Dia berharap Pemilihan Ponggalan menjadi Kampung Tangguh Nusantara akan memiliki dampak lebih baik ke masyarakat sehingga proses edukasi dan sosialisasi untuk penataan sungai bisa dilakukan lebih terarah karena ada dukungan dari berbagai pihak. (sky/tif)

Jogja Raya