RADAR JOGJA – Berakhirnya masa penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Kabupaten Sleman, masih menyisakan ribuan kursi dari daya tampung yang telah disediakan. Sisa kuota di tingkat SD mencapai 4.834 kursi dan tingkat SMP 1.520 kursi.

Plt Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Arif Haryono menjelaskan, daya tampung di tingkat SD negeri maupun swasta di Sleman mencapai 18.055 kursi. Hanya saja, siswa yang diterima seluruhnya baru mencapai 13.221 siswa. Sedangkan untuk tingkat SMP negeri, memiliki daya tampung sampai dengan 7.904 siswa. Total tersebut, sudah di luar kelas olahraga di tiga sekolah. “SMPN memiliki kuota sisa 22 kursi. Sembilan di SMPN 3 Prambanan, sisa delapan kursi di SMPN 4 Prambanan, dan lima lainnya di SMPN 2 Gamping, ” jelas Arif di Pendopo Parasamya Selasa (7/6).

Sedangkan untuk SMP swasta, tambah Arif, daya tampung mencapai 6.400 siswa. Hanya saja, masih ada 1.498 kursi yang saat ini belum terisi. Sekolah yang yang kuotanya masih tersisa, disebabkan adanya beberapa calon peserta didik yang tidak melakukan daftar ulang. Sedangngkan alasan lainnya karena memilih bersekolah di Kota Jogja.

GRAFIS

Arif mengimbau, bagi sekolah yang kuotanya belum terpenuhi, masih diperbolehkan untuk menerima siswa sampai awal tahun ajaran baru. Kebijakan tersebut dilakukan, agar siswa yang belum diterima di sekolah manapun, baik SD maupun SMP tetap dapat menempuh pendidikan. “Untuk melaksanakan program wajib belajar sembilan tahun,” tambahnya.

Sementara untuk ajaran baru yang akan dimulai pada 13 Juli, masih akan dilakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini karena status Kabupaten Sleman yang masih dalam masa tanggap darurat Covid-19 sampai 31 Juli mendatang. Kebijakan tersebut juga berlaku bagi wilayah yang saat ini berzona hijau. Mengingat mobilitas siswa maupun tenaga pendidik yang tidak berasal dari satu wilayah, dikhawatirkan menyebabkan adanya persebaran Covid-19. Menurut Arif, pembelajaran secara tatap muka masih belum bisa dilakukan. “Pembelajaran dengan daring akan terus dievaluasi sesuai perkembangan kondisi mendatang,” kata Arif.

Nantinya, untuk kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di awal tahun ajaran baru, juga akan dilakukan secara daring. Pihaknya, telah berkoordinasi dengan semya sekolah untuk menyiapkan materi PLS bagi orangtua wali maupun siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul Bahron Rasyid mengatakan, mengacu pada surat edaran gubernur DIJ, dipastikan tahun ajaran baru 2020-2021 masih menerapkan kegiatan belajar di rumah. “SE dari Gubernur DIJ turun sejak Senin (6/7) malam. Para siswa tetap menjalankan program belajar di rumah,” kata Bahron Rasyid saat dihubungi Selasa (7/7).

Dia menjelaskan, sesuai dengan edaran tersebut pembelajaran dari rumah tidak ada batas waktu. Ini berbeda dengan kebijakan sebelumnya yang ditetapkan setiap dua minggu sekali. Kebijakan menyesuaikan perkembangan kasus korona di wilayah DIJ. “Sebelum ada edaran terbaru dari gubernur,  pembelajaran di tahun ajaran baru menetepakan tiga opsi,” ujarnya.

Pertama, kebijakan perpanjangan belajar di rumah, tetap masuk seperti biasa atau siswa akan masuk secara bergantian. Menyusul turunya SE, pihaknya siap menindaklanjuti sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. “Rencananya tahun ajaran baru dimulai Senin (13/7) mendatang,” ungkapnya.

Hasil dari penerimaan siswa baru di tingkat SD dan SMP masih ada sejumlah sekolah kekurangan siswa. Kondisi demikian sebenarnya telah diprediksi sejak awal karena kuota yang tersedia lebih banyak ketimbang jumlah lulusan di setiap tingkatan. “Kapasitas penerimaan baru siswa SMP ada sekitar 13.000an kursi. Namun jumlah siswa lulusan SD hanya sebanyak 9.701 anak sehingga para siswa tetap bisa melanjutkan sekolah,” ucapnya.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag)  Gunungkidul Arif Gunadi mengaku siap melakukan skema yang sama dengan kebijakan pemerintah. Khusus pondok pesantren, kepada pengasuh dan pengelola diminta ketat dalam melakukan pengawasan terhadap santri.  “Aktivitas keluar masuk pondok juga harus terpantau,” kata Arif Gunadi. (eno/gun/din)

Jogja Raya