RADAR JOGJA – Alasan karena khawatir ketahuan orang tua serta status masih mahasiswa menjadi alasan AA,21 dan MS,22 membuang bayi hasil hubungan gelap mereka di Bokoharjo, Prambanan, Minggu (14/6) lalu.

Bayi itu sempat ditinggalkan satu hari di Rumah Sakit Permata Medika Semarang tempat dilahirkan sebelum akhirnya kembali lagi dengan membawa perlengkapan bayi dan membawanya ke wilayah Jogjakarta. Mereka bermaksud menitipkan bayi itu ke saudara MS di Bantul. Namun, di tengah perjalanan keduanya cekcok dan meninggalkan sang bayi tepi jalan.

Kejadian ini digambarkan AA,21 dan MS,22 saat gelar rekonstruksi yang dilakukan jajaran Satuan Reskrim Polres Sleman guna melanjutkan penyelidikan. Dalam rekonstruksi itu, keduanya melakukan 21 adegan di pinggir Jalan Prambanan- Piyungan.

Kanit PPA Sat Reskrim Polres Sleman Iptu Bowo Susilo mengatakan, keduanya sempat berputar-putar di wilayah Jogjakarta dan akhirnya meninggalkan bayinya di pinggir jalan. “Alasannya, khawatir ketahuan orang tua serta mengingat status mereka masih mahasiswa,” ujar Bowo.

Bowo menambahkan, kedua pelaku disangkakan Pasal 76 B Jo 77 B Undang-Undang RI  No.17/ 2016 perubahan kedua atas Undang-Undang RI No: 23/ 2002, serta Pasal 38 KUHP tentang Perlindungan Anak. Keduanya diancam maksimal 5 tahun penjara.

Namun, kuasa hukum AA dan MS, Ahmad Mustaqim menyatakan keberatan dengan pasal yang disangkakan terhadap kedua pelaku. Sebab, menurut dia kasus pembuangan bayi tidak disengaja. Ini dikarenakan niat pertama AA dan MS adalah menitipkan bayi kepada sanak saudara. Namun di tengah jalan keduanya terlibat selisih paham. Selain itu, jika akan membuang bayi, tidak akan meninggalkan identitas, akta dan perlengkapan bayi. “Hanya karena panik saja,” ujarnya.

MASIH MAHASISWA: Suasana rekonstruksi gelar perkara pembuangan bayi di Bokoharjo, Prambanan, (6/7). ( IWAN NURWANTO/ RADAR JOGJA )

Dia mengaku juga telah mengajukan penangguhan penahanan terhadap kedua pelaku, dengan alasan supaya AA dam MS  tetap bisa melanjutkan studinya. Serta terkait dengan kesehatan dan kondisi bayi yang saat ini membutuhkan air susu ibu (ASI) dari pelaku MS.”Saya tekankan, mereka tidak berniat membuang tapi mereka mau membawa bayi ke keluarga. Namun karena kondisinya panik lalu cekcok dan ketakutan ketahuan orang, sehingga ditinggalkan di pinggir jalan,” ujar Mustaqim.

Mustaqim menyampaikan anak hasil hubungan AA dan MS sudah ditangani pihak keluarga dan dalam kondisi sehat. Bayi dirawat nenek AA di Semarang. Kedua keluarga juga sudah menerima kondisi bahkan akan menikahkan keduanya. “Keluarga sudah merestui hubungan keduanya,” terangnya. (inu/din)

Jogja Raya