RADAR JOGJA – Aktivitas di kawasan Malioboro kembali ramai. Sayangnya belum banyak pengunjung yang berbelanja di pedagang kaki lima (PKL). Menyikapi itu, Paguyuban Pelukis, Perajin, dan PKL Malioboro-Ahmad Yani (Pemalni) pun kembali memberi bantuan sembako ke anggotanya.
Ya, setelah libur berjualan sejak Maret lalu, sudah lima hari terakhir Tukiman kembali berjualan di Malioboro. Tapi selama lima hari berjualan, baru tiga kaus batik yang dijualnya terjual. Padahal dia berjualan sejak pukul 09.00 hingga 19.00. “Hari pertama laku dua, hari kedua (laku) satu, setelah itu zonk,” kata Tukiman disela pemberian bantuan sembako Pemalni, kemarin (4/7).
Tukiman menyebut, sepinya transaksi penjualan karena saat ini pengunjung Malioboro didominasi wisatawan lokal. Masih warga dari dalam daerah DIJ. Seperti pejalan kaki maupun pesepeda. Tapi dia bertekad tetap kembali berdagang di Malioboro. “Karena sudah tiga bulan kerja serabutan, tabungan pun hampir habis,” ujarnya sambil menyebut bantuan sembako dari Pemalni sangat membantu meringankan beban saat ini.
Ketua Pemalni Slamet Santosa mengatakan, bantuan sembako kali ini merupakan yang kedua kalinya.  Setelah yang pertama pada Juni lalu. Melalui kegiatan Pemalni Peduli. Bantuan sembako diberikan kepada 450 anggota Pemalni. “Paket sembako ini bantuan pengurus untuk meringankan beban anggota, karena meski sudah new normal belum bisa mengembalikan pendapatan seperti dulu,” katanya.
Sama dengan Tukiman, Slamet mengaku transaksi ekonomi di Malioboro masih sangat minim. Itu karena saat ini pengunjung Malioboro rerata per hari baru sekitar 500 orang. Padahal sebelum pandemi bisa sampai 2.500 per hari. “Itu pun kebanyakan wisatawan lokal, banyak yang jalan-jalan,” tuturnya.
Kondisi itu diperparah dengan kebijakan pengaturan pengunjung Malioboro. Penerapan jalur searah bagi pengunjung, dinilainya kurang menguntungkan bagi Pemalni. Karena pintu masuk, dari utara, ditempatkan di sisi timur Malioboro. Sedang anggota Pemalni berada di sisi barat. “Pengunjung malas kalau harus menyeberang,” ungkapnya.
Sebagai solusinya, Ketua RW 1 Pringgokusuman itu mengusulkan supaya pintu masuk Malioboro ditambah juga di sisi barat. Slamet menyebut di sisi barat masih cukup luas. Bisa di jalur semipedestrian maupun di lorong toko. Untuk pencegahan korona, jarak antar PKL juga sudah diatur. “Untuk tempat cuci tangan sudah ditambah dan mewajibkan semua orang di Malioboro memakai masker,” tegasnya. (*/pra)
Jogja Raya