RADAR JOGJA – Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Jogja telah menyiapkan program pemulihan untuk membangkitkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Kepala Bidang Usaha Kecil Mikro, Rihari Wulandari mengatakan salah satu strategi yang dilakukan yakni memproduksi barang-barang yang dibutuhkan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Barang tersebut seperti makanan olahan, masker, alat pelindung diri (APD), hand santizer, sarung tangan, dan sejenis lainnya. Disamping itu, meningkatkan dan mengoptimalkan melalui kerjasama dengan marketplace. “Kami membuat katalog di rumah saja belanja aman isinya ada gambar, harga, kontak, produk-produknya, dan alamat,” ujar Rihari kemarin (3/7).

Saat ini, strategi yang tengah diupayakan yakni menjalin komunikasi dengan dua mal yang ada di Jogja. Mal tersebut, nantinya membantu UMKM agar dapat memasarkan produk-produknya. Salah satu teknisnya dapat membantu menyediakan stand atau display tempat. ”Daripada sepi kami sudah menjalin kerjasama dengan sistem mau bagi hasil,” jelasnya.

Kerjasama tersebut sudah berlangsung, namun terkait dengan sistem bagi hasil sedang dirapatkan oleh tim manajemen mal. Sistemnya direncanakan anggota UMKM dapat menampilkan produk-produknya di mal. “Tawaran ini disambut antusias oleh pelaku UMKM,” sambungnya.

Pelaku UMKM yang akan dilibatkan dari tiga sektor yakni fesyen, craft, dan kuliner. Upaya ini dilakukan karena di tengah pandemi ini produk-produk mereka belum laku terjual akibat terdampak Covid-19, terutama fesyen maupun craft. “Pokoknya secepatnya ini baru kami tindak lanjuti,” ucapnya.

Sementara, yang banyak diuntungkan adalah sektor olahan makanan atau kuliner. Terdapat empat laporan dari binaannya yang masuk bahwa Covid-19 tidak selalu berdampak buruk. “Mereka luar biasa sampai bisa mengangkat tetangganya jadi pekerjanya,” jelasnya.

Dia menyebut jumlah UMKM di kota Jogja di 14 kecamatan ada 26 ribu pelaku usaha. Diantaranya yang sudah mengantongi bukti legalitas usaha atau izin usaha mikro (IUM) 4.500 pelaku. Dari google form yang disebarkan ada 1.450 UMKM yang terdampak pandemi Covid-19. Pelaku UMKM yang beralih ke produksi APD, masker, hand sanitizer, dan sejenisnya sekitat 119. Serta produk olahan sekitar seratusan. “Seribuan yang kena dampak sebagian sudah ber IUM,” tambahnya.

Salah satu anggota Komunitas Wirausaha Muda yang tergabung dalam Home Bussiness Camp (HBC), Arlilin Marhendri mengatakan, meski mengantongi IUM, usahanya juga ikut terdampak Covid-19. Akibatnya, omset turun drastis karena prioritas konsumen saat pandemi adalah kebutuhan pangan dan kesehatan. “Jadi minat untuk membeli produk fesyen juga turun drastis,” kata pelaku usaha fesyen itu.

Pemilik usaha fesyen batik Jumanis itu kemudian menangkap peluang atau situasi pandemi dengan berinovasi lebih kreatif dengan beralih memproduksi masker kain tradisional. Meski tidak 100 persen beralih dan tetap memproduksi fesyen. “Tapi sekarang memang baru banyak pesanan masker daripada fesyen baju,” ujarnya.

Dengan alasan karena produksi masker dengan harga terjangkau juga banyak dilakukan pelaku UMKM lain. Maka dia memprodukai dengan hal yang berbeda yakni dengan kain tradisional berupa batik atau tenun. “Saya harus bisa beda dari yang lain, harus ada inovasi tidak asal jual masker,” jelasnya. Saat ini, dirinya tengah sibuk memproduksi masker kostum untuk souvenir pernikahan. Omsetnya 70 persen lebih banyak masker daripada fesyen. (wia/bah)

Jogja Raya