RADAR JOGJA – Berbagai langkah kebijakan dikeluarkan oleh universitas untuk meringankan beban perkuliahan di masa pandemi Covid-19. Bukan hanya universitas, lembaga layanan pendidikan tinggi (LLDikti) Wilayah V juga mengambil langkah serupa, mendukung setiap perguruan tinggi yang ada di DIJ.

Kepala Bagian Akademik Kemahasiswaan dan Sumber Daya LLDikti Wilayah V Tunggul Priyono menjelaskan adanya kebijakan boleh digantinya skripsi dengan mata kukiah lain yang setingkat. Bukan berarti ditiadakan, skripsi bisa diganti dengan mata kuliah seperti kerja praktik.

Kebijakan itu, tambah Tunggul, hanya berlaku selama pandemi. Mengingat kondisi berbagai sektor menjadi tidak normal. “Oleh karena itu bisa diganti dengan kerja praktik, sekaligus ditulis sebagai skripsinya. Kebijakan ini untuk menyiasati mahasiswa yang skripsi, agar tidak keluar dari rumah,” ungkap Tunggul Kamis (2/7).

Ia menambahkan, tidak ada dasar hukum atau surat resmi berlakunya kebijakan tersebut di setiap kampus. Hanya saja hal itu merupakan kebijakan dari LLDikti supaya bisa ditempuh oleh mahasiswa di tengah pandemi. “Tidak ada suratnya, karena pernyataan lisan waktu itu. Tapi kebijakannya seperti itu,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sutrisna Wibawa menyebutkan, skripsi tetap ada di kampus. Hanya saja formatnya diubah dan disesuaikan dengan kondisi sekarang. Seperti mengubah objek penelitian yang semula di sekolah formal bisa diganti pada keluarga. “Mungkin diubah objeknya, kemudian populasinya yang semula di A bisa di B. Pokoknya yang memungkinkan untuk bisa pengambilan data,” katanya.

Sutrisna menambahkan, bentuk skripsi akan tetap sama seperti skripsi pada umumnya. Karena, menurutnya, skripsi memiliki substansi ilmu. Lewat skripsi, mahasiswa bisa belajar menyusun latar belakang masalah, identifikasi masalah, dirumuskan lalu dicari jawaban, akhirnya mengambil kesimpulan. “Kami menekankan pada prosedur ilmiah, objek, data, itu semua menyesuaikan yang mungkin bisa,” tambahnya.

Menurut Sutrisna, bantuan kemudahan mengerjakan skripsi hanya berlaku di tengah pandemi saja. Yang mana skalanya bisa diperkecil, karena prosedur ilmiah yakni harus menjadi pengalaman mahasiswa. Sehingga UNY merasa perlu menekankan bagaimana prosedur ilmiah itu menjadi pengalaman mahasiswa. “Mengenai data itu bisa data sekunder, lalu data yang memungkinkan bisa diambil di masa pandemi,”  katanya. (eno/laz)

Jogja Raya