RADAR JOGJA – Penggunaan benang jenis senar untuk permainan layang-layang, rentan menimbulkan bahaya. Beberapa kali terjadi kecelakaan akibat tersangkut benang senar yang tajam, bahkan sampai merenggut korban jiwa.

Perkumpulan Pegiat Layang-layang Nusantara Talikama mendesak pemerintah untuk bersikap tegas dengan mengeluarkan larangan penggunaan benang senar untuk layang-layang. 

“Benang senar memang membahayakan, apalagi yang dibuat lebih tajam atau senar gelasan,” kata Sekjen Perkumpulan Pegiat Layang-layang Nusantara Talikama Anang Sarjiyanto, Kamis (2/7).

Anang menuturkan, penggunaan senar sebagai tali layang-layang mulai tren sejak era tahun 2000-an. Sebelumnya, masyarakat biasa menggunakan benang katun. Karena harga yang lebih murah dan tidak mudah putus, penggemar layang-layang beralih ke jenis senar.

Pihaknya akan mengirim surat resmi kepada Pemprov DIJ agar menerbitkkan aturan mengenai industri pembuatan layang-layang. Tujuannya agar pelaku usaha layang-layang pun diatur untuk tidak menggunakan senar.

“Ke depan akan dibuatkan wadah bagi penggemar layang-layang kombatan. Beberapa tahun lalu, kami pernah mengadakan lomba yang mensyaratkan pakai benang katun. Semoga langkah semacam ini bisa mengedukasi masyarakat,” ujar Anang.

Ketua Talikama Herdjuno juga menegaskan yidak terlibat dalam penyelenggaraan Festival Layang-layang JLS-Layangan Indie di Jalur Lintas Selatan pada Sabtu malam lalu (27/6). Dalm kegiatan tersebut sempat terjadi kemacetan dan kerumunan massa, sehingga dibubarkan aparat.

“Kami justru sedang menggencarkan kampanye safety kiting, khususnya di masa pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.

Cara bermain layang-layang yang aman, lanjut Herdjuno, di antaranya menggunakan sarung tangan, jaga jarak, dan mengenakan masker. Warga juga tidak dianjurkan bermain layangan di lingkungan perumahan, jalan raya, dekat kabel listrik, dan area lapangan udara, terminal, dan stasiun kereta api. (sky/tif)

Jogja Raya