RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X) meminta pengembangan aplikasi digital terkait pelayanan publik dalam sektor pariwisata lebih optimal. Tujuannya agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pengelola wisata maupun pemangku kebijakan.

Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo memastikan aplikasi digital siap digunakan. Hanya saja perlu ada sinkronisasi terutama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIJ. Agar tak ada peran ganda dengan adanya dua aplikasi yang berbeda.

“Kami (Dispar DIJ) sudah kembangkan elektronik reservasi secara online. Kemudian ini saling bersinggungan dan relevansi dengan ID digital milik Kominfo. Sesuai dawuh ngarso ndalem (HB X) untuk mendata pengunjung di destinasi wisata,” jelasnya, ditemui di Bangsal Kepatihan Pemprov DIJ, Kamis (25/6).

Terintegrasinya kedua aplikasi ini dapat memudahkan pendataan pergerakan wisatawan di wilayah DIJ. Sementara bagi wisatawan mendapatkan rasa aman dan nyaman. Pendaftaran cukup satu kali untuk pemanfaatan jangka panjang.
Pihaknya dalam jangka waktu dekat akan mengumpulkan pengelola destinasi wisata, Diskominfo DIJ dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIJ. Tujuannya untuk mengimplementasikan aplikasi dalam aktivitas kepariwisataan.

“Kemarin kan ada 10 destinasi yang uji coba terbatas, ini kami undang lagi. Kalau BPD kaitannya relevansi dari aplikasi ID digital dan reservasi di kami (Dispar) akan sambung cashless payment yang dibantu BI (Bank Indonesia),” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Kominfo DIJ Rony Primanto Hari menuturkan aplikasi masih dalam pengembangan agar integrasi data lintas instansi dapat dilakukan. Fungsi utamanya adalah memantau mobilisasi orang dalam satu tempat tertentu.

Rony mendorong agar warga DIJ mengunduh aplikasi ini. Khususnya yang memiliki mobilitas tinggi. Baik sekadar aktivitas rutin maupun gemar traveling. Tentunya destinasi wisata yang berada di Jogjakarta.

“Kalau sekarang namanya masih Cared+ Jogja, kalau konsepnya ID digital. Nanti warga atau yang mengunjungi Jogakarta wajib instal. Bisa memonitor kerumunan dan memudahkan tracing apabila ada kasus,” ujarnya.

Jajarannya juga tengah menyiapkan sebuah big data. Memanfaatkan Covid-19 Monitoring System dan Disaster Suport System. Fungsinya untuk memonitor dan menganalisa zonasi kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) setiap wilayah. Nantinya akan ditentukan berdasarkan angka kasus.

Aplikasi ini nantinya akan terintegrasi dengan Bidang Penegakan Hukum (Gakkum) Gugus Tugas Covid-19 DIJ. Tindaklanjut berupa peninjauan titik kerumunan yang terdeteksi. Berimbas pada penertiban apabila protokol kesehatan Covid-19 tak berjalan.

“Mengetahui lokasi kerumunan, apakah wilayah dengan resiko tinggi penularan. Sehingga perlu diantisipasi oleh Gakkum agar tidak jadi klaster baru. Nantinya akan memudahka dalam mengambil kebijakan apabila terjadi sesuatu,” katanya.(dwi/tif)

Jogja Raya