RADAR JOGJA – Selama pandemi korona, sepeda menjadi olahraga favorit. Tak hanya saat akhir pekan, saat weekdays pun banyak pesepeda di jalanan. Sayang beberapa pesepeda acuh tak acuh pada aturan lalu lintas.

Saat weekend lalu, kamera CCTV merekam kejadian nahas. Seorang pesepeda terlindas pengendara sepeda motor di jalan Imogiri Timur Sabtu pagi (20/6). Radar Jogja menemui dokter Hanung Wijaya pemilik kamera CCTVsekaligus orang yang sempat merawat pengendara motor sesaat usai kecelakaan.

Rekaman CCTV merekam, tiga orang pesepeda dari utara ingin menyalip seorang pesepeda di depan mereka secara bersamaan. Pengendara sepeda berbaju merah yang berada di tengah lantas oleng, lantas menyenggol kedua temannya. Kedua pesepeda yang disenggol terpental ke pinggir jalan. Sedangkan pengendara berbaju merah justru tersungkur di aspal.

Dari arah utara, ada pengendara motor yang melaju dengan kecepatan rendah. Motor tersebut melindas pesepeda berbaju merah yang tersungkur di tengah jalan. “Ada sedikit luka lecet, tapi tidak parah,” jelasnya ditemui di kantornya kemarin (22/6).

Menanggapi beberapa kasus pesepeda yang melanggar lalu lintas, Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda DIJ Kombes Pol I Made Agus Prasatya mengatakan, sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan memuat pasal yang mengatur tentang pesepeda dan pejalan kaki. “Pesepeda punya hak di jalan, semua pengendara harus menghormati,” katanya dihubungi kemarin (24/6).

Tapi, dia meminta pesepeda ketika ada lajur khusus harus tetap berada dilajurnya. Sebaliknya, jika tidak ada lajur khusus sepeda maka pesepeda bisa menggunakan hak jalan tersebut dengan etika berlalu lintas dan tidak mengganggu jalan. Paling ideal berjejer di jalan adalah dua pesepeda. “Kadang satu lajur dipenuhi sehingga menimbulkan implikasi laka lantas,” ujarnya.

Bagaimana dengan pesepeda yang melanggar? Penindakannya pun di saat ini lebih bersifat teguran. Diawali preemtif dengan menggencarkan sosialisasi bagi pengendara sepeda. Kemudian preventif dengan menyebar polisi di titik-titik rawan. “Represifnya kami non yustisi, sebagai langkah awal kami akan melakukan peneguran bagi yang melanggar aturan,” ucapnya.

Di saat bersamaan, lanjut dia, juga melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ, mengkaji keberadaan atau penentuan lajur-lajur sepeda. Menurut dia, lajur sepeda biasa dibatasi dengan marka dan terdapat tanda sepeda. “Tapi Dishub akan mempertimbangkan luas jalan. Kalau tidak memungkinkan semua pengendara bisa menggunakan jalan tersebut dan semua harus menghormati,” imbuhnya.

Terkait hal itu, Kepala Dishub DIJ Tavip Agus Rayanto berencana mengoptimalkan keberadaan jalur sepeda, Yang dulu pernah diinisiasi Pemkot Jogja. Jalur sepeda, kata dia, idealnya tidak memanfaatkan bagian jalan raya. Seperti di luar negeri yang cenderung memanfaatkan trotoar. Namun, hal itu sulit diterapkan bila melihat kondisi tata ruang Kota Jogja saat ini. Jalan raya maupun trotoar memiliki luas yang sempit. Juga terdapat banyak potongan jalan. “Kami pokoknya bukan bikin garis (jalur sepeda), karena pengguna sepeda sudah banyak sekali,” jelasnya.

Sebagai penggemar sepeda, dia mencontohkan etika bersepeda yang baik. Salah satunya tidak berjejer saat bersepeda. Terlebih saat pandemi, hindari bersepeda secara berkelompok dan menjaga jarak aman. “Bedanya habbit pesepeda di luar negeri itu dalam konteks olahraga. Kalau kita ngoborol sambil bersepeda, sehingga jejeran,” tuturnya.

Pesepeda juga harus mengikuti peraturan lalu lintas yang ada. Sebab aturan memang dibuat untuk seluruh pengguna jalan baik pejalan, kaki, pesepeda, hingga mobil dan motor. “Dianggap lampu merah untuk motor. Padahal traffic itu mengatur seluruh jenis kendaraan. Sosialisasi ini butuh dilakukan,” tegasnya. (cr2/tor/wia)

Jogja Raya