RADAR JOGJA – Dinas Pariwisata DIJ mengevaluasi sejumlah penerapan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Khususnya di beberapa destinasi wisata. Langkah ini merupakan tindak lanjut atas simulasi di 10 destinasi wisata di DIJ. Hasilnya tidak semua pengelola wisata memahami protokol baku tersebut.

Beberapa yang menjadi catatan adalah keseragaman pemahaman atas protokol kesehatan Covid-19. Imbasnya penerapan di setiap destinasi wisata berbeda-besa. Padahal penerapan aturan harus mengacu pada protokol yang sama.

“Rata-rata belum well informed tentang SOP (standar operasional prosedur) itu. Kami sudah memberikan saran apa saja yang harus dilengkapi,” jelasnya, ditemui di Bangsal Kepatihan Pemprov DIJ, Kamis (25/6).

Singgih juga menyoroti beberapa restoran masih menerapkan metode prasamanan. Padahal cara ini rentan menjadi munculnya kerumunan. Alhasil penerapan physical distancing menjadi tak optimal.

Dia meminta agar manajemen restoran mengganti metode penyajian kuliner. Berupa penyajian kuliner langsung di meja makan. Selain itu dalam setiap meja makan juga diberikan sekat pembatas berupa mika.

“Prasmanan itu tidak kami rekomendasikan. Kalaupun mau tetap ada, lebih baik ada petugas yang mengambilkan,” katanya.

Walau begitu secara garis besar, destinasi wisata telah menerapkan tiga prinsip utama. Berupa pemakaian masker, penerapan physical distancing dan fasilitas cuci tangan. Langkah selanjutnya adalah komitmen atas protokol yang berlaku.

“Dari 10 (destinasi wisata) rata rata sudah siap. Kayak Nglangeran, Kali Suci itu sudah. Lalu kawasan Mangunan rata-rata juga sudah siap,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Raya