RADAR JOGJA – Gempa dengan kekuatan Magnitudo 5.0 dan kedalaman 63 kilometer di selatan Pacitan dinihari Senin (22/6), cukup dirasakan masyarakat di Jogjakarta dan sekitarnya. Tak sedikit warga kaget dan terbangun dari tidurnya karena merasakan goyangan yang lumayan kuat.

Dilihat dari lokasi dan kedalamannya, gempa tersebut bersumber dari dalam lempeng yang menunjam. Staf ahli di Pusat Studi Bencana UGM Dr Gayatri Indah Marliyani ST, MSc menjelaskan, wilayah itu masih menjadi bagian dari sistem subduksi di selatan Jawa. Dengan istilah geologi disebut sebagai gempa intraslab. Dilihat dari mekanismenya, gempa yang terjadi memiliki pergerakan turun, akibat respons batuan terhadap gaya tarikan lempeng samudera ke bawah.

Dikatakan, tipe gempa seperti ini biasanya dapat dirasakan secara luas. Dikarenakan terjadi cukup dalam pada daerah bertekanan besar dan bersuhu cukup tinggi, serta batuan di daerah tersebut bersifat relatif plastis. Artinya, setelah mengalami deformasi, batuan mudah kembali ke posisi awal. Hal ini yang mengakibatkan tidak terjadinya gempa susulan.“Gempa dengan tipe seperti ini biasanya juga tidak menyebabkan tsunami, karena tidak mengakibatkan perubahan dasar laut secara signifikan,” jelas Gayatri melalui keterangan tertulisnya kepada wartawan Senin(22/6).

Selain gempa bumi dengan tipe intraslab, di selatan Pacitan sering terjadi gempa karena sesar-sesar naik pada zona tumbukan lempeng. Gempa seperti ini biasa terjadi di daerah zona prisma akresi dan cekungan muka busur. Jika dilihat dari peta kedalaman bawah laut (batimetri), terlihat cekungan muka busur (berupa depresi di lepas pantai) wilayah selatan Pacitan, secara drastis menyempit dibandingkan dengan wilayah selatan Jogjakarta.

Hal itu mengindikasikan adanya tekanan yang lebih kuat di selatan Pacitan. Diakibatkan oleh adanya morfologi tinggian atau tonjolan di dasar laut yang ikut terseret masuk ke zona subduksi. “Bisa diamati dengan baik dari data batimetri,” tambah Gayatri yang juga dosen dan peneliti di Departemen Teknik Geologi UGM.

Adanya morfologi-morfologi tinggian, tambah Gayatri, menjadi ganjalan dari proses subduksi yang terjadi. Ini menyebabkan pergerakan lempeng menjadi tertahan. Energi yang tertahan, kemudian dilepaskan melalui sentakan tiba-tiba yang ditandai oleh peristiwa gempa bumi.
Seringnya gempa berskala kecil yakni Magnitudo M5-6 di daerah selatan Pacitan, adalah pertanda baik. Hal ini karena energi yang tertahan bisa dilepaskan secara bertahap. Akan tetapi untuk mengetahui sebenarnya energi yang masih tersimpan dan yang sudah dilepaskan, penelitian secara seksama harus terus dilakukan.

Dikatakan, meskipun getaran gempa sangat terasa, Gayatri mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Masyarakat juga diminta terus meningkatkan kesadaran bahwa kita tinggal di daerah rawan gempa bumi, sehingga pengetahuan-pengetahuan mengenai kondisi daerah tempat tinggal perlu dipahami dengan baik. Untuk mengetahui adanya ancaman bahaya yang mungkin terjadi dan mengantisipasinya. (eno/laz)

Jogja Raya