RADAR JOGJA – Gugus Tugas Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Pemkot Jogja telah melakukan random sampling rapid diagnostic test (RDT) kepada ribuan warga. Diawali dari pasar tradisional, menyusul kemudian pegawai mall dan terbaru masyarakat umum.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemkot Jogja Heroe Poerwadi menuturkan ada 161 sampel yang diambil dari 10 pasar tradisional. Dari total tersebut ada tiga hasil reaktif. Satu sampel dinyatakan negatif uji swab. Sementara dua lainnya masih menunggu hasil uji laboratorium.

“Satu hasil masih menunggu, satu lagi kami pasrahkan ke Magelang karena kependudukannya Magelang. Sementara untuk 6 mall, rapidnya 474 sampel. Empat reaktif, dua warga kota dan dua warga Sleman. Masih menunggu hasil swab,” jelasnya ditemui di Puskesmas Danurejan 2, Rabu (17/6).

Jumlah terbanyak RDT kit menyasar kalangan masyarakat. Setidaknya ada 618 RDT kit yang digunakan. Sasarannya adalah warga dari 30 kelurahan yang ada di Kota Jogja. Pengambilan sampel berlangsung serentak di setiap puskesmas selama dua hari berturut-turut.

Wacana kedepan adalah random sampling RDT kepada pegawai restoran dan kafe. Pendataan sudah mencakup jumlah usaha kuliner tersebut. Hanya saja detail jumlah karyawan masih dalam penghitungan.

“Kalau sudah ketemu jumlah pegawai, baru diambil samplingnya. Ada wacana juga menyasar personel Satpol PP dan Jogoboro. Mereka juga kerap terpapar banyak orang, nanti akan kami rapid,” katanya.

Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19 Kota Jogja ada delapan kasus positif Covid-19. Sementara untuk pasien berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) mencapai 12 orang. Mayoritas kasus memiliki kontak riwayat dengan orang luar Kota Jogja.

Wakil Wali Kota Jogja ini tak menampik ada penolakan dari warga. Bukan karena uji medis yang dilakukan oleh pemerintah. Tapi lebih kepada ketakutan terhadap jarum suntik. Beberapa warga sempat mundur dengan alasan tersebut.

“Warga menolak karena takut jarum suntik. Di mall ada empat karyawan yang pingsan karena ketakutan diambil darahnya. Kalau menolak kan sistem snowballing. Nanti dilempar ke subjek lain yang tetap ada kaitan,” ujarnya.

Terkait anggaran, Heroe memastikan APBD Pemkot Jogja masih mencukupi. Dari total anggaran Rp 174 miliar telah terpakai Rp 30 miliar hingga Rp 40 miliar. Sisa dari pemanfaatan anggaran terfokus pada kebangkitan masa transisi.

“Saya tidak hafal persisnya tapi sudah terpakai Rp 30 miliar sampai Rp 40 miliar. Ada beberapa anggaran kami efisienkan, proyeksikan untuk banyak kegiatan lalu bantuan sosial. Tapi sebagian besar kami gunakan ke masa transisi menuju kebangkitan,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya