Kekhawatiran penularan virus Covid-19 masih terjadi. Salah satunya dari alat cuci tangan yang digunakan secara masal. Inilah yang mendorong Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Tridadi Makmur memproduksi alat cuci tangan tanpa sentuhan. Cukup diinjak kaki, air dan sabun akan mengalir.

IWAN NURWANTO, Radar Jogja, Sleman

RADAR JOGJA – Dilihat bentuknya, wastafel “anti korona” ini memang tidak jauh berbeda dengan alat cuci tangan pada umumnya. Namun, satu hal yang membedakan adalah model pengoperasiannya. Pengguna cukup menggunakan pedal kaki, maka sabun dan air akan keluar. Alat ini juga lebih ringan dan portabel. Sehingga mudah dipindahkan.

Kepala Seksi Pelayanan Desa Tridadi Nurul Amin Iskandar mengatakan, terciptanya wastafel anti korona itu berawal dari kekhawatiran sebagian masyarakat tentang ancaman penularan virus dari penggunaan fasilitas umum yang digunakan secara masal. Salah satunya alat cuci tangan. Sehingga perangkat desa melakukan inovasi membuat alat cuci tangan minim sentuhan hasil dari modifikasi wastafel biasa.

“Awalnya sebenarnya hanya iseng. Setelah Lebaran kemarin, kami coba membuat wastafel ini,” ujar Amin.

Alat cuci tangan ini awalnya hanya diproduksi untuk kebutuhan instansi pemerintahan desa dan warga sekitar. Namun, karena melihat antusias peminatnya cukup tinggi, kemudian diproduksi secara masal oleh BUMdes Desa Tridadi dan dijadikan salah satu peluang usaha di tengah pandemi ini.

Produksi wastafel juga mampu menyerap tenaga kerja hingga puluhan orang. Sehingga banyak dari masyarakat yang sebelumnya menjadi korban pengurangan karyawan oleh perusahaan, kembali bisa mendapat pekerjaan. Total ada 15 karyawan yang dipekerjakan.

Per hari sebenarnya ditargetkan produksi 10 unit. Tetapi mereka bisa memroduksi 15 buah. Pengerjaan mulai pukul 08.00 sampai maksimal pukul 24.00. “Ada 15 orang yang terlibat,” imbuh Amin.

Menganai pemasaran, Amin menyebut wastafel anti banyak diminati. Mulai dari perkantoran pemerintahan sampai universitas. Hingga saat ini, total sudah ada 350 unit wastafel yang dipasarkan. Baik di wilayah Jogjakarta maupun luar daerah.

Harga wastafel tersebut bervariasi. Mulai Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. Itu tergantung bahan dan perangkat cuci tangan yang digunakan. Untuk yang paling murah, memiliki rangka besi dengan tutup mika. Sementara yang agak mahal dengan penutup alumunium. “Ada juga yang memeasan dengan penampung air, tentu akan ada tambahan biaya,” katanya.

Meskipun produksi wastafel anti korona ini menjajikan, Amin tetap berharap agar permasalahan Covid-19 bisa segera berakhir dan masyarakat bisa kembali ke kehidupan normal. Diakuinya, usaha pembuatan wastafel anti korona hanya akan bersifat sementara. Sebab, produk wastafel merupakan alat cukup awet dan tidak dibutuhkan setiap waktu.

“Sekali lagi ini hanya momentum saja dan tidak menjadi usaha tetap atau baru di BUMNdes ini. Namun, setidaknya usaha ini cukup membantu para pekerja maupun warga yang terdampak pandemi agar tetap mendapat penghasilan,” terang Amin.(din)

Jogja Raya