RADAR JOGJA – Berolahraga, termasuk bersepeda, saat pandemi yang mengharuskan memakai masker, menimbulkan pertanyaan dampaknya bagi kesehatan. Di antaranya ancaman kekurangan oksigen atau hipoksia.

Spesialis Kedokteran Olahraga, Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dr. Muh Ikhwan Zein, SpKO menjelaskan, penggunaan masker pada pesepeda sebenarnya bukanlah hal yang baru. Menurut dia, pada 2015-2016, banyak pesepeda di London telah memakai masker diakibatkan cuaca yang buruk.

Tubuh manusia yang responsif akan menunjukkan respon untuk meningkatkan frekuensi napas. Mengganti pola pernapasan dari hidung ke mulut. Itu bertujuan agar udara yang masuk ke tubuh lebih banyak. Hanya saja, kondisi itu bisa memicu dingin dan mengeringnya mukosa yang ada di dalam hidung. Sehingga mukosa tidak bisa menangkap zat berbahaya yang masuk. “Akan menurunkan sekresi antibodi lokal serta memperlampat gerakan sillia (rambut getar), sehingga menurunkan pembuangan zat berbahaya yang masuk. Hal ini akan membuat kontaminan udara ke paru-paru semakin meningkat,” jelas Ikhwan Minggu (14/6).

Secara langsung, tubuh akan mengirimkan tanda saat suplai oksigen menurun akibat penggunaan masker. Seperti capek, napas berat dan ngos-ngosan. Tanda tersebut, dikirim oleh tubuh supaya tubuh tidak mengalami hipoksia. Hal tersebut bisa diantisipasi dengan menurunkan intensitas dan kecepatan olahraga yang dilakukan. “Perlu waktu 2-4 minggu untuk adaptasi,” ungkapnya.

Meskipun dikategorikan aman berolahraga menggunakan masker, Ikhwan menyarankan, untuk olahraga dilakukan dengan intensitas ringan-sedang. Selain itu, jika olahraga sudah dirasa berat, masyarakat bisa menurunkan intensitasnya. Bukan malah membuka masker untuk mendapatkan banyaknya udara yang dibutuhkan tubuh. Selain itu, jika masker telah basah harus diganti. Sesuai dengan anjuran pemerintah yakni setiap empat jam sekali.

Ikhwan menambahkan, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga masih merekomendasikan olahraga di rumah selama new normal. Namun jika masyarakat ingin tetap berolahraga di luar ruangan, dianjurkan untuk tetap menjaga jarak. “Menghindari pusat keramaian dan selalu memakai masker,” sarannya. (eno/pra)

Jogja Raya