RADAR JOGJA – Kepala Disperindag Kota Jogja Yunianto Dwi Sutono menuturkan penutupan Pasar Kranggan dilakukan dalam rangka sterilisasi maksimum. Berupa penyemprotan disinfektan ke seluruh penjuru pasar selama tiga hari berturut-turut. Diawali sejak Minggu (14/6) hingga Selasa (16/6).

Awal mula tindakan ini adalah munculnya klaster supplier ikan. Salah satu pemasok tersebut sempat mampir Pasar Kranggan. Diketahui bahwa salah satu pasien positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sempat berinteraksi dengan sejumlah pedagang Pasar Kranggan.

“Ada supplier ikan yang positif (Covid-19). Kebetulan istrinya juga berjualan ikan di Pasar Kranggan, tetapi negatif. Sudah dilakukan tracing kepada 41 pedagang di pasar Kranggan,” jelasnya, Senin (15/6).

Pertimbangan penutupan pasar juga adanya uji rapid diagnostic test (RDT) secara massal, Sabtu (13/6). Alhasil Disperindag Kota Jogja memutuskan untuk meliburkan aktivitas di pasar tradisional tersebut. Untuk selanjutnya memulai kembali aktivitas Rabu (17/6).

Selain sterilisasi dengan disinfektan adapula pengaturan alur berjalan dan jarak. Berupa pengaturan jarak antar pedagang, jarak pembeli, dan juga alur keluar dan masuk pasar Kranggan. Langkah ini sebagai wujud physical distancing.

“Kami atur dengan tali, diberi tanda untuk alur keluar dan masuk pasar. Ini jadi protokol kita untuk mencegah penyebaran Covid-19 di pasar tradisional,” katanya.

Walau begitu dia tetap meminta masyarakat berperan aktif. Khususnya untuk mematuhi seluruh protokol yang berlaku. Apabila tak patuh, tak menutup kemungkinan akan muncul kasus baru di Pasar Kranggan.

“Harapannya masyarakat juga disiplin dalam menerapkan protokol. Pakai masker saat belanja, jangan lupa cuci tangan, kami sudah siapkan tempat cuci tangannya,” ujarnya.

Terkait kasus klaster supplier ikan, pihaknya juga berkoordinasi dengan Pemkab Sleman. Diketahui bahwa kasus ini juga menyebar di salah satu pasar tradisional di Sleman, tepatnya Pasar Kolombo.

“Supaya lebih efektif upaya pencegahan Covid-19. Karena kan ada kesamaan, supplier ini kan mengantar ikan di beberapa pasar, termasuk di Pasar Kolombo Sleman,” katanya.

Penutupan pasar Kranggan mendapat respon positif anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Nurcahyo Nugroho. Menurutnya langkah yang dilakukan oleh Pemkot Jogja sudah tepat. Fungsinya untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

Pasca penutupan, baik pedagang dan pembeli wajib patuh terhadap protokol yang berlaku. Penggunaan masker, menjaga physical distancing hingga cuci tangan menjadi syarat wajib. Apabila tak patuh tentu ada konsekuensi yang berlaku.

“Saya mendukung penutupan pasar Kranggan, karena selama tiga hari tutup bisa dilakukan sterilisasi maksimum. Selanjutnya protokol diperketat kalau mau masuk pasar, tidak hanya untuk Pasar Kranggan tapi juga pasar tradisional lainnya,” pesannya.

Anggota Fraksi PKS ini juga meminta ada aturan ketat bagi supplier luar Kota Jogja. Wajib memiliki surat keterangan sehat dari Puskemas. Mengingat mobilisasi yang tinggi tak menutup kemungkinan ada potensi penularan Covid-19.

“Hal itu untuk memastikan, supplier sehat dan meminimalisir penularan Covid-19 di pasar tradisional. Kita kan tidak tahu dia kemana dan ketemu siapa saja sebelum masuk pasar. Jadi memang harus bawa surat sehat,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Raya